Rabu, 09 Oktober 2013

Manusia manusia yang bernilai


Setiap orang pasti mempunyi hasrat, mempunyai sebuah tujuan yang ingin dia capai dalam hidupnya. Tujuan, Hasrat, cita-cita, keinginan, memang sangat penting, dan hal itu adalah “sesuatu” yang membuat hidup kita lebih berwarna, lebih bersemangat menjalani hari-hari, dan membuat diri kita menjadi lebih “hidup”. Namun dalam mencapai tujuan tesebut, tentu saja ada beberapa hambatan , tantangan, dan “harga” yang harus kita bayar untuk mencapainya. Ya , menurut saya 2 hal itu sangat penting, yaitu Tujuan dan Proses untuk mencapainya.

Kira-kira kedua hal itulah yang akan membuat seseorang mencapai cita2nya,yang saya yakini juga seperti itu.Namun ,saya teringat beberapa bulan lalu saat sedang nongkrong di warung kopi bersama-sama teman-teman saya,sambil ngborol ngelantur ngalor ngidul membicarakan berbagai macam hal,termasuk hal diatas barusan,hhe, ada pemikiran bagus dari teman saya tersebut,ternyata diantara 2 hal tersebut yang kita bahas di atas (tujuan dan proses), ada satu hal yg sangat penting yang kadang2 dilupakan orang. Apakah itu? Hal itu adalah “Nilai-nilai diri kita sebagai manusia”

Jadi, begini kira-kira kata teman saya “tujuan dan proses itu penting, namun sebenarnya yg lebih penting  lgi adalah bagaimana proses-proses tersebut bisa membuat lo menjadi seorang manusia yang lebih baik lagi” jadi, point yg ingin teman saya smpaikan adalah mengenai “nilai-nilai diri kita”, akhlak, sikap,perilaku kita, apakah semakin baik atau tidak ketika kita sudah mencapai tujuan kita.

Sebagai contoh, dalam perkuliahan,misalnya jurusan teknik, apakah selama kita kuliah sampai kita lulus, tugas-tugas yang suangat buanyak dan susah itu telah membentuk kita menjadi seseorang yg misalnya lebih disiplin, lebih rajin,lebih komitmen, atau malah sebaliknya, membuat kita menjadi seorang yg tidak jujur, malas dan sebagainya.

Jadi harus bagaimanakah sikap kita sekarang, saya akan coba mengutip kata-kata dari seorang Albert Einstein. Yaitu :

“Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value”

Ya intinya sih yg saya tangkap dari kalimat di atas cobalah jadi seseorang yg lebih bernilai, lebih bagus akhlaknya.Tentu dalam penerapannya mungkin tidak semudah ucapan,dan yg paling bagus adalah kalau kita bisa saling mengingatkan, karena iman seseorang itu biasanya naik turun, jadi butuh support satu sama lain, Kira-kita itu hal2 yg saya ingin smpaikan dalam tulisan kali ini,hhe,mohon maaf ya jika sotoy,hhe,

terakhir saya ingin menyampaikan hadits Nabi mengenai akhlak

“Sesungguhnya sebagian daripada iman adalah bagusnya akhlak, dan yang paling utama diantara kalian imannya adalah yang paling bagus akhlaknya” (HR. Imam Ath-Thabrani)


*firman fakhri
10 Oktober 2013
Dari Kamar Tercinta, Embun pagi kamar P


Selasa, 08 Oktober 2013

Aturan Main


Aturan main apa yang akan saya tulis kali ini? Yaa,ini adalah aturan main ketika kita lagi naksir seseorang atau jatuh cinta haha,sbnernya ini aturan main yg saya rumuskan sendiri sih hhe,dari berbagai sumber yang sudah saya baca. Karena menurut saya ini hal baik, dalam konteks “saling mengingatkan”,jadii akan saya coba sharee.

Yang pertama adalah, ingatlah bahwa ketika kita naksir seseorang , maka tidak otomatis orang tersebut naksir kita juga, jadi jangan egois dan juga jangan GR, karena yg dipikirin belum tentu mikirin kita, yg kita perhatiin belum tntu juga mrhatiin blik,bisa jadi bagi kita dia adalah malam minggu, namun bagi dia kita hanyalah hari senin

Yang kedua, kendalikan asumsi2 yg berlebihan, berhubungan dengan nmor 1 juga sih,kalau kita sudah merasa GR duluan, biasanya tiap waktu dihabiskan dengan memikirkan si doi, tiap hal dihubungkan dengan si doi, bukan dihilangkan, namun dikendalikan, karena perasan2 asumsi, menduga duga itu juga sesuatu yg indah, anugrah dari Tuhan,namun takutnya kalau tidak dikendalikan akan mengurangi produtivitas, lupa dengan kewajiban2, dan malah sia2. 

Sementara dua dlu ya, nanti lanjut lagi hhe

*firman fakhri
Bandung, 8 Oktober 2013

Senin, 07 Oktober 2013

I LOVE YOU


Satu pemuda dengan mata berbinar-binar, di bawah temaram lampu kota Jakarta,  dengan pemandangan jalanan yang super-macet, akan bilang dengan suara bergetar: "Aku cinta padamu." Lupakan sekitarnya, dunia seperti milik berdua saja—yang lain, yang sedang macet di jalanan hanya numpang.

Sementara di belahan China sana, di lorong-lorong toko yang ramai, bertemudi bawah hiasan lampion dan naga-naga merah, asap mie kuah mengepul, serakan bebek peking, mereka akan bilang: "Wo ai ni." Lain pula satu pemuda bavaria, di dekat sisa tembok Berlin yang sekarang jadi hiasan toilet, menggunakan syal Bayern Muenchen, dia akan berbisik mesra ke pasangannya: "Ich liebe dich.” Sedangkan di India sana, dengan sedikit kerling mata, sedikit aca-aca, diiringi banyak tari dan lagu, mereka akan bilang: "Mein tumse pyar karta hoon", atau "Tane prem karoo choo" bagi dialek Gujarat. Si cewek mengangguk, bukankah dia juga selama ini sudah "Kuch-kuch hota hai" pula? Cocok? Bukan main. 

Ah, di bawah menara Eiffel yg elok, bermandikan cahaya, lihatlah seorang pemuda Perancis, akan mengatakan dengan gagah kalimat: "Je t’aime." Konon, katanya bahasa Perancis adalah bahasa yang paling indah, jadi bayangkan betapa super-indahnya pernyataan cinta itu ketika dikatakan. Indah kuadrat, itu sama dengan, eh super indah.

Lain kisah teman Jepang kita yang sedang berduaan sambil menatap gunung Fuji yang juga indah, sakura-san akan bilang: "Kimi o ai shiteru". Dan pasangannya akan mengangguk malu-malu. Besok mereka akan bertamasya ke Menara Tokyo yang terkenal itu, atau bermain di Disneyland, Tokyo, entalah. Kalian demam K-Pop? Kalau begitu, tidak perlu saya beritahu bagaimana orang Korea bilang aku cinta padamu, toh, jangan-jangan kalian sudah lama menulis kalimat tersebut di buku tulis, lantas diberi gambar love, love, atau ilustrasi hati merah yang seperti gelembung sabun terbang di mana-mana. Sambil di bawahnya ada tulisan kecial: muach, muuachh.

"Ana behibek" kata pemuda Arab sambil tersipu ke pasangannya, maka sang gadis akan menjawab, "Ana behibak". Tak kalah tersipunya. Tapi, jangan salah kalimatnya. Ada behibak, ada behibek. Huruf a dan e bisa membedakan arti di gurun pasir sana, kalian bisa disangka suka sesama jenis jika salah pakai. Saya juga tidak paham bahasa Arab, tapi ini peringatan yang baik.

Kakek-nenek kita dulu yang masih mengalami penjajahan Belanda, pasti pernah mendengar meneer dan mevrouw (nyonya) Belandea saling bilang: "Ik hou van jou", dan lucunya, kakekku dulu juga suka menirunya, cuek bilang: "Ekhopanjo, bojoku." Tak masalah separuh-separuh begitu, tak masalah salah-salah lafal, kan bibirnya tetap bibir inlander pribumi. Yang penting nenek mengerti, dan balas bilang "Ekhopanjo juga karo sampeyan." Beruntung kita tidak dijajah bangsa Hongaria atau Kazakhastan, kan susah banget nulis kalimat cinta mereka: "Szeretlek te’ged", "Men seny jaksy kuremyn". puh, apalagi pas bilangnya, tambah syusah, kebanyakan huruf konsonannya. Tapi meski susah banget bagi lidah kita, ajaib, ini kalimat mungkin sudah setengah mati ditunggu seorang gadis yang selalu menatap penuh harap seorang pemuda yang selalu berjalan lambat di gang depan rumahnya di kota Budapest yang eksotis itu. Boleh jadi di dalam hatinya dia berseru, oh, katakanlah "Szeret-zeret tadi padaku." 

 "Mahal kita" kata orang Filipina, "Ya lyublyu tebya" kata orang Rusia, "Tora dust daram" seru orang Persia, "Ti amo" kata orang Italia, dan seterusnya dan seterusnya. Begitu banyak versi kalimat I Love You di belahan dunia. Saking banyaknya, tak terhitung. Karena bahasa-bahasa setempat juga punya versi sendiri. Di Indonesia saja ada lebih tiga ratus bahasa lokal, maka akan ada tiga ratus pula versi kalimat "Aku cinta padamu?" Di Sumedang, Banten sana, Padang, Pulau Enggano, Pelosok Papua, Sulawesi, pedalaman Kalimantan, dan entahlah

Nah, pernahkah ada yang berpikir bagaimana manusia mengungkapkan "I Love You" pada jaman pra-sejarah? Saat bahasa belum ada? Saat manusia masih ber "a-a-a, u-u-u, a-a-a-a", masih mengejar-ngejar dan dikejar-kejar dinosaurus dan kawan-kawannya? Kan mereka belum punya kalimat sama sekali, jangankan "I Love You", mau bilang makan saja susah, "a-a-a-a, i-i-i." Maka, menurut teman saya, yang amatiran soal antropologi dan sejarah manusia, katanya mereka menyampaikan rasa cintanya dengan pentungan batu. Sungguh. Pakai pentungan batu. Jdut! Sang cowok akan memukul kepala cewek idamannya, lantas berteriak-teriak, "i-i-i…u-u-u…" Nah, loh! Celakanya lagi, menurut analisis ngaco teman saya itu, semakin dalam cintanya, maka semakin keras sang cowok akan menggunakan pentungan batu yang sehari-hari buat melempar gajah purba tersebut. Si cewek mati karena digebuk? Ah, mana ada "kalimat cinta" membuat mati seseorang. Semaput sih iya. Si cewek cuma pingsan sedikit, lantas akan siuman, kemudian tentu saja akan membalas memukul tak kalah kerasnya, "i-i-i…u-u-u…." Aku cinta kamu juga. Pakai banget, loh. 

Nah, pernahkah juga kalian berpikir bagaimana pula dengan pasangan yang cacat, kurang beruntung? Pasangan yang buta dan tuli misalnya? Bagaimana mereka akan bilang cinta? Melihat tak bisa, mendengar juga tak bisa Ah, Tuhan selalu punya skenario hebat untuk urusan ini. Aku pernah terkesima menyaksikan sepasang buta yang naik kendaraan umum. Mereka saling berpegangan tangan sejak memasuki pintu kereta. Mesra nian. Meski umur mereka berbilang lima puluhan. Yang laki dengan lembut membimbing yang wanita menuju kursi memakai tongkatnya (meski sebenarnya penumpang lain yang membantu mereka menyibak padatnya kereta). Lantas mereka duduk bersisian. Yang wanita lantas meraba-raba sakunya, mengambil dua butir permen. Membukakan satu untuk pasangannya, satu untuk dirinya sendiri. Mereka buta, jadi amat menyentuh hati melihat kemesraan dua butir permen itu. Butuh dua menit untuk membuka dua permen itu Aku menghela nafas panjang. Bagi mereka, kalimat sungguh kecantikan wajah tak ada gunanya, ketampanan pasangan tidak penting benar-benar menjadi bukti nyata. Cara tangan mereka meraba-raba, menyentuh lengan pasangannya sudah bilang sejuta cinta. Dan aku mendadak jengah. Malu. Ya Tuhan, bandingkan cinta mereka dengan cinta yang kupahami dan kuinginkan. Sungguh mereka mengajarkan makna cinta yang sesungguhnya. Besok lusa akan saya tulis dalam banyak buku-buku.

Nah, setelah begitu panjang lebar membahas kalimat ‘I Love You’, jadi sebenarnya poin penting apa yang hendak saya sampaikan? Simpel. Kita punya banyak cara menyampaikan cinta. Punya banyak kalimat. Bahasa. Tetapi sadarilah, cara terbaik untuk menyampaikan cinta adalah dengan perlakuan. Dengan perbuatan. Dengan pengorbanan yang tulus. Tidak peduli apakah seseorang itu akan membalas cinta kita atau tidak. Tidak peduli apakah perlu kalimat itu diucapkan atau tidak. Ucapkanlah dengan memberi tanpa mengharap, memberi tanpa mengambil, itulah simbolisasi cinta yang paling indah.

 Makanya tidak perlu heran jika menemukan sepasang kekasih, berumur 90 tahun. Sudah menikah 70 tahun. Memiliki anak 12, cucu 30, cicit 67. Tinggal sederhana di kaki Gunung Kerinci. Kemarin lusa sang istri tercinta pergi. Dan saat sang suami yang tua menatap sedih butir demi butir tanah dimasukkan menutupi jasad istrinya, meski menangis, dia tersenyum rela. Padahal sempurna, dia sempurna tidak pernah bilang "Aku cinta padamu"  kepada almarhum istrinya. Tidak pernah selama 70 tahun kebersamaan mereka. Karena kalimat itu selalu kelu saat akan diucapkan. Selalu tersumbat saat akan dikatakan. Kalimat itu terlalu sakral bagi mereka berdua. Tetapi almarhum istrinya tahu persis, suaminya amat mencintainya, karena kalimat itu terukir indah bersama hari-hari mereka yang hebat. 25.500 hari. Hari-hari suka-cita, hari-hari pertengkaran, hari-hari kebahagiaan, hari-hari kesedihan, hingga hari2 kepergian. Mereka telah berbagi 25.500 hari.
Kita sudah berbagi berapa hari?

Jika usia kita saat ini katakanlah lima belas tahun, maka yang bisa saya pastikan, kita sudah tinggal bersama keluarga kita selama 5.000 hari lebih. Jika usia kita saat ini katakanlah tiga puluh tahun, maka kita sudah tinggal bersama keluarga kita selama 10,000 hari lebih. Maka sebelum menyontek berbagai ragam kalimat ‘I Love You’ di atas, jangan lupa, mulailah dengan bilang kalimat itu pada keluarga kita. Ayah, Ibu, adik, kakak. Itu tidak kalah spesialnya.
 Itu bahkan selalu spesial.

*Repost dari tulisan Bang Tere Liye

Sajak Aku dan Kamu






AKU DAN KAMU
Aku dan kamu
Tadinya aku merasa, Aku dan Kamu
Hidup dalam dunia yang tidak jauh berbeda
Aku tahu, kita memiliki banyak pemahaman yang sama
Walau aku dalam gelap, kau dalam cahaya
Walau gelap tidak selalu berarti buruk, dan cahaya tidak selalu berarti baik
Namun aku merasa
Cahayamu dapat meredamkan sisi gelap di hatiku
Aku tahu ,banyak  yang lebih pantas untukmu
Namun aku juga tahu, kau tidak berhak melarangku untuk berharap
Kita memang hidup dalam dunia yang berbeda
Kau dengan teman-teman mu, aku dengan teman-temanku
Aku tahu, aku hanya lagu yang menyedihkan saat ini
Dan Aku tahu, jika aku tak memperbaiki  diri
Aku Takkan pantas untukmu
Dan mungkin Tuhan takkan mengijinkan aku bersamamu
Saat ini, aku hanya berharap pada Tuhan
Agar kau mempunyai perasaan yang sama denganku
Agar kau mau menungguku
Agar Tuhan mempersatukan kita
                                                                      Aku dan Kamu


*Firman Fakhri, Bandung, 7 Oktober 2013,00.40 WIB

Hiu Dalam Hidup


Salah satu tulisan yg memberiku pandangan baru tntang hidup,ternyata hal2 tersebut sama sekali tak patut dikeluhkan,
Untuk masakan Jepang, kita tahu bahwa ikan salmon akan lebih enak untuk dinikmati jika ikan tersebut masih dalam keadaan hidup saat hendak diolah untuk disajikan. Jauh lebih nikmat dibandingkan dengan ikan salmon yang sudah diawetkan dengan es.
Itu sebabnya para nelayan selalu memasukkan salmon tangkapannya ke suatu kolam buatan, agar dalam perjalanan menuju daratan, salmon-salmon tersebut tetap hidup. Meski demikian, pada kenyataannya banyak salmon yang mati di kolam buatan tersebut.
Bagaimana cara mereka menyiasatinya? 
Para nelayan biasanya memasukkan hiu kecil dikolam tersebut. Ajaib: Hiu kecil tersebut "memaksa" salmon-salmon itu terus bergerak agar jangan sampai dimangsa, akibatnya jumlah salmon yang mati justru menjadi sangat sedikit!
Diam membuat kita mati, bergerak membuat kita hidup. 

Apa yang membuat kita diam? 
Saat tidak ada masalah dalam hidup dan saat kita berada dalam zona nyaman. Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena. Begitu terlenanya, sehingga kita tidak sadar bahwa kita telah, mati! Ironis bukan?
Apa yang membuat kita bergerak? 
Masalah, pergumulan, dan tekanan Hidup. Saat masalah datang secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha mengatasi semua pergumulan hidup itu. Tidak hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kitapun menjadi berkembang luar biasa.
Ingatlah, bahwa kita akan bisa belajar banyak dalam hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup.
Itu sebabnya syukurilah "hiu kecil" yang terus memaksa kita untuk bergerak dan tetap survive. Masalah hidup adalah baik, karena itulah yang membuat kita terus bergerak.
Tetap semangat dalam menjalani hidup.

Repost from unknown 

*tribute to myself and my friends, yg lagi galau Tugas Akhir##semangat##
© Free Like a Swallow 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis