Jumat, 22 November 2013

Kita Hidup dalam Perbandingan-Perbandingan



“Ray, semua itu hanya perbandingan. Otak manusia sejak lama terlatih menyimpan banyak perbandingan berdasarkan versi mereka sendiri, menerjemahkan nilai seratus itu bagus, nilai lima puluh itu jelek. Hidup seperti ini kaya, hidup seperti itu miskin. Otak manusia yang keterlaluan pintarnya mengumpulkan semua kejadian-kejadian itu dalam sebuah buku besar, yang disebut buku perbandingan.

“Buku itu lantas diserahterimakan kepada generasi penerusnya, selalu diperbaharui sesuai kebutuhan jaman, yang sayangnya dalam banyak hal, lama-lama perbandingan itu menjadi amat menyedihkan. Mempunyai harta benda itu baik, miskin-papa itu jelek. Benar- benar ukuran yang tidak hakiki. Bagaimana mungkin posisinya tetap lebih baik kalau harta benda itu didapatkan dengan cara-cara yang tidak baik? Bagaimana pula tetap lebih jelek kalau kemiskinan itu memberikan kehormatan hidup?”

Dua paragraph diatas diambil dari Novel Rembulan tenggelam di wajahmu( hal 415-416) karangan tere liye.

Kita hidup dalam perbandingan-perbandingan.Entah sejak kapan , sadar dan tidak sadar, hidup saya dan kita mungkin seperti itu. Kita dalam hal ini mungkin adalah remaja tanggung dan orang dewasa yang sudah banyak pengalamannya. Namun saya rasa hal ini tidak berlaku buat anak kecil, karena anak kecil belum mempunyai banyak parameter-parameter perbandingan dalam hidupnya, beluum aja yaa.

Kebanyakan dari kita membanding-bandingkan menurut cermin sosial, menurut kebanyakan orang, kalau kebanyakan orang melakukan hal ini, maka hal itulah yg benar, kalau hanya sedikit orang yg melakukan ini, maka orang enggan melakukannya. Kalau mau bahagia, harus punya ini itu, keren itu harus begini begitu,  Masalahnya adalah, tidak semua yg dilakukan kebanyakan orang itu benar, namun belum tentu juga salah.Dan tidak semua juga yg dilakukan sedikit orang itu salah, siapa tau benar. 

Namun,entahlah , batas2 antara hal yang benar dan yg salah di jaman sekarang, dalam sistem2 yg dibuat manusia semakin tidak jelas saja, mungkin yang kita kira baik ternyata tidak baik,tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, dan sebaliknya.ya,mungkin itulah kenapa kita harus selalu “membaca” apa saja.Berpikir lebih kritis perbandingan mana yg bahaya dan yg mana yg bermanfaat.

Seperti apa perbandingan2 yg berbahaya? yaitu perbandingan yg selalu membuat kita merasa kurang dan merasa rendah diri,karena perbandingan-perbandingan itu boleh jadi akan membuat hidup kita jadi tidak lepas,luwes, bebas seperti anak kecil, dan tidak objektif, dan satu lagi tidak bahagia, dan kalau kita tidak bahagia , itu kan bahaya.

Lalu perbandingan mana yg baik bagi kita, oke kita kutip lagi paragraf dalam novel rembulan tenggelam di wajahmu, “ ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan kau merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji, masa depan. Dan sebaliknya ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan, maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu. Dengan begitu , kau selalu pandai bersyukur.

Jadi, itu yang pertama, lihatlah ke atas dan ke bawah, oh ya,atas dan bawah dalam kalimat di atas pengertiannya luas , tidak selalu identik dengan harta.

Yang kedua, kalau mau membanding-bandingkan,bandingkan saja diri kita dengan diri kita sendiri.Dengan parameter diri kita yang dulu dan diri kita yang sekarang. Kalau lebih baik, alhamdulillah, kalo ga ya berusaha lgi, tapi biasanya sih kita yg sekarang cenderung lebih baik dari kita yang dulu. 

Yang terakhir, mengenai buku perbandingan yg sebutkan di paragraf atas, jadi jangan sampai generasi penerus kita menerima buku perbandingan yg salah dari kita, sebisa mungkin jangan sampai perbandingan2 yg belum tentu benar yg kita alami tersampaikan ke bawah. Cepat atau lambat mau gam au kita harus jadi orang dewasa yang keren,memberi contoh yang baik pada adik-adik kita.

Haaah ,orang dewasa yg keren? Teladan yg baik? Rasanya kalimat2 itu masih jauuuh sekali dari saya,malah sebaliknya, mungkin saya jago sekali dalam pemberi contoh yang tidak baik haha. Apa kalian juga begitu? Kalau iya, berarti kita saling membutuhkan untuk saling mengingatkan.

Firman Fakhri
22 November 2013




Sabtu, 16 November 2013

Introspeksi dan hal-hal kecil yang kongkrit



Sekarang mungkin banyak sekali di sekitar kita yang pandai mengkritik sesuatu tanpa mau berusaha terlibat dalam sistemnya,mengkritik seseorang tanpa berkaca ke diri sendiri setelahnya, dan juga yang pandai menyuarakan sesuatu namun tidak ada langkah kongkrit untuk mencapainya,banyak sekali, dan sayangnya, saya sendiri pun merasa menjadi bagian hal-hal yang saya sebutkan di atas, malah mungkin saya jago sekali. 

Entahlah kenapa, namun lebih baik saya tuangkan dalam tulisan daripada tidak, teringat nasihat teman dulu, “jangan ngebatin!” , lebih baik tuangkan, lebih baik ceritakan.Yah, jadi bodo lah walaupun saya masih merasa seperti yg saya sebutkan di paragraf atas

Jadi boleh kah kita mengkritik suatu sistem atau seseorang ? boleh, tentu saja boleh, kritik adalah tanda kepedulian kita, kritik bisa jadi “tanda” ketidakberesan yang terjadi dalam suatu sistem, kritik adalah baik dalam konteks “saling mengingatkan”. Namun, selalu pastikan sebelum dan setelahnya, kita selalu introspeksi diri, apakah kita ternyata sama saja dengan yg kita kritik, apakah kita sudah berkontribusi dalam sistem yang kita kritik atau belum.

Mengapa introspeksi diri ini begitu penting? Ada beberapa jawaban

Yang pertama, agar kita tidak merasa angkuh, tidak merasa hebat dengan nasihat2 yg kita keluarkan,agar kita selalu beristighfar , minta ampun kepada Tuhan, karena manusia memang tempatnya salah dan lupa.Kalau kita merasa sombong sedikit saja, tamat sudah.

Yang kedua, kita harus introspeksi diri, karena menurut saya, kritik, nasehat2 orang lain itu tidak akan mempan kalau kita tidak ada kesadaran untuk menerima hal tersebut, dan kesadaran untuk menerimanya itulah yg disebut introspeksi diri

Yang ketiga kita harus introspeksi diri, (kebalikan dari nomor dua di atas),karena kadang ga selamanya yg di kritikkan orang tentang kita itu benar, kadang di hati kita sebenarnya kita sudah tau jawaban2 atas apa yang kita pertanyakan, atas apa yang mau kita lakukan,jadi gimana caranya kita tetap menerima kritik2 tersebut namun di saat yg bersamaan ,kita juga telaah apa yang dikritikkan itu benar.

Yang keempat, kita harus introspeksi diri karena demi sistem yang lebih baik. Jadi begini, setiap sistem pasti memiliki tujuan, dan tujuan dalam sebuah sistem pasti dilakukan secara bersama-sama.Lalu faktor apa biasanya yang membuat tujuan itu gagal? Misal dalam kepanitiaan atau organisasi ketika melakukan suatu kegiatan, pasti ada saja hal yg tidak tepat sasaran, dan itu biasanya dikarenakan karena faktor human error.
Apa biasanya solusinya dalam evaluasi untuk faktor human error ini? Setelah evaluasi secara teknis,jawaban yang biasa saya dengar adalah “kembali lagi pada pribadinya masing-masing”, dan menurut saya pun ini salah satu yang paling ampuh.Sebagai contoh,kita tahu di negeri kita banyak masalah, apa solusi yang paling baik selain penegakan hukum yg ditegakkan setegak tegaknya?, ya itu kembali pada diri masing2, coba pikir, kalau semua pejabat,penegak hukum memastikan dirinya berbuat baik,jujur, bermanfaat bagi orang lain, kemungkinan besar masalah-masalah di negeri ini selesai dengan sendirinya, mungkiin siih.Jadi intinya, introspeksi

Lalu, setelah introspeksi ,apalagi? Ya harus berubah jadi lebih baik sih harusnya, dan jangan lupa diikuti tindakan-tindakan, langkah2 yang kongkrit. Kongkrit berarti jelas dan spesifik. Lalu bagaimana caranya? Saya dulu suka mendengarkan ceramahnya AaGym, ilmu dari beliau yang saya ingat adalah 3M, apa itu 3M? 3M adalah, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari sekarang , Mulai dari hal yang kecil.

Pertama,mulai dari sendiri, bener banget karena kita ga bisa ngendaliin orang lain, kita hanya bisa ngendaliin diri sendiri,kedua, mulai dari sekarang, ini juga bener banget, karena waktu itu sibuk ,ga bisa nunggu kita, bahkan dia ga peduli, bodo amat walau kita lagi seneng kek lgi galau kek, waktu terus berjalan.Apa biasanya penyakitnya yg menghalangi 2M yg pertama ini? Itu adalah malees dan menundaa, bagi saya pribadi, itu penyakit yg sangat susaah ditaklukaan.

Yang ketiga mulai dari hal yang kecil? Ini juga bener banget,soalnya kadang kita biasanya terlalu nafsu untuk berangan-angan, berbuat besar, pengen ini pengen itu,tapi hal2 kecil dilupakan.Akibatnya hal2 besar yg kita inginkan juga tidak tercapai, “Kalau kita tidak bersyukur atas hal2 kecil, maka bagaimana kita bisa menjamin akan bersyukur hal2 yang besar? Boleh jadi itulah kenapa hal2 besar itu tidak mendekat”. 

Kenapa sih harus mulai dri yg kecil dulu? Kalau kata om covey seperti ini, jadi setiap diri kita memiliki apa yang namanya rekening integritas pribadi. Setiap kita melakukan kebaikan2 kecil, janji pada diri sendiri yang kita tepati, maka saldo integritas/keyakinan dalam diri kita akan bertambah,dan keyakinan ini adalah modal penting bagi kita untuk melakukan sesuatu yang lebih besar.Sebaliknya ,saldo rekening integritas kita akan berkurang kalau kita melanggar janji2 terhadap diri sendiri.Intinya sih, kalau hal2 kecil saja tidak bisa kita lakukan, bagaimana mungkin kita akan melakukan hal2 yg lebih besar.Bahkan mungkin kalau kita selalu melakukan hal2 kecil, mensyukurinya, boleh jadi hal2 besar itu akan datang dengan sendirinya.

Jadi , lakukanlah hal2 baik yg kongkrit , ga usah muluk-muluk,mulai saja dari hal yg kecil terlebih dahulu, semisal selalu biasakan bangun pagi, selalu merapihkan kamar,pakaian2, menyapu , mengepel, bikin to do list buat hari ini,dll, dsb.

Itu saja dari saya, hanya mau menuangkan pikiran, hanya mau mengingatkan,terutama ke diri saya sendiri sih, kalo ga di tulis takut lupa soalnya. Oh ya satu lagi, jangan pernah menilai orang secara objektif dari apa yg dia omong sama yg dia tulis yaa, soalnya kadang itu cuma pencitraan, kalo mau menilai secara objektif lihat omongan+tulisan+kelakuannya sehari-hari+Tanya temen2 deketnya,temen2 satu organisasinya+lebih ampuh tanya orangtuanya langsung.Makasih, wass

Firman Fakhri
17 November 2013

Jumat, 15 November 2013

Efektif dan Efisien


Sewaktu kelas manajemen proyek,dosen saya pernah bertanya pada mahasiswa, kalau kalian menjadi pelaksana proyek, mana yang kamu prioritaskan, “efektif” atau ‘’efisien”? kebetulan dari kami ada beberapa yang menjawab, “efisien”. Lalu dosen saya menjawab, “yakin? Kalau kalian memilih itu, maka kedepannya kalian bisa berpotensi menjadi koruptor-koruptor seperti sekarang yang banyak diberitakan di media massa itu”.saya terdiam sejenak, benar juga ya

Jawaban dari dosen saya itu seharusnya memberikan kita  penekanan penting untuk memahami arti dua kata itu, efektif dan efisien. Pertama efektif, menurut hemat saya,inti dari efektif adalah melakukan kegiatan secara  benar, dengan serangkaian cara-cara atau  yg akan memberikan hasil sesuai yang diinginkan, intinya sih, tepat sasaran dan membawa hasil.Lalu efisien,menurut hemat saya lagi,inti efisien adalah melakukan suatu kegiatan mencapai hasil sebanyak-banyaknya dengan waktu yang sesingkat-singkatnya dengan biaya yang seminim-minimnya. 

Jadi, apa yg akan terjadi kalau orang lebih memprioritaskan efisien dulu?ya itu seperti yang dibilang dosen saya,koruptor-koruptor yang diberitakan di media massa itu, yang penting hasil yang dicapai banyak,waktu ga terbuang, biaya yg dipakai sedikit,bodo amat bagaimanapun caranya, bodo amat hasilnya seperti apa, bodo amat hasilnya ga sesuai dengan standar kualitas ( yg penting keliatannya dari luar sudah oke), bodo amat apalah itu, yang penting efisien sesuai kepentingan dirinya sendiri.


Tentu saja efisien tidak salah dalam suatu kegiatan, malah harus kayanya, namun sebaiknya hal itu dilakukan kalau syarat “efektif” sudah terpenuhi.


Jadi kalau dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana caranya agar segala kegiatan kita efektif?,  ya harus tau ilmunya sesuai dengan kegiatannya,tau ilmunya dengan apa?tentunya dengan membaca, ngbrol2 dengan yg lain,mau menerima masukan orang lain,dll.Oh ya satu lagi yang penting jangan lupa ngaca ke diri sendiri, periksa apakah kelakuan kita sehari-hari lebih mementingkan efektif atau efisien dulu, jangan2 ternyata kelakuan kita ga berbeda jauh dengan kelakuan koruptor2 itu, hanya saja di ruang lingkup yg lebih kecil,belum membesar aja, tapi berpotensi.Jadi ingat selalu ngaca dulu biar ganteng dan cantik.

Firman fakhri
16 November 2013

Kamis, 14 November 2013

FOTO- FOTO KEREN

*Foto2 keren

Mendaki sebuah gunung bukan sebuah kebanggaan, Kawan
Karena kalau kita anggap pendakian gunung itu kebanggaan
Maka jangan lupa, penduduk setempat bahkan setiap hari
Setiap hari mencari kayu bakar, rotan, dan sebagainya di sana
Bahkan anak2 mereka pergi memancing ke atas danau di gunung
Berangkat pagi, pulang sore

Mengunjungi sebuah kota, New York, London, dsbgnya juga bukan prestasi
Karena kalau melanglang buana itu kita anggap prestasi
Maka jangan lupa, pengemis, gelandangan di sana setiap hari
Setiap hari mengemis dan menggelandang di jalanannya
Tidur di sudut2 kota, tempat kita baru saja ber-pose
Lantas kita bagikan di jejaring sosial

Kita tidak bicara berapa banyak gunung yang kita daki
Berapa lembar foto keren yang kita peroleh
Tapi berapa banyak pemahaman yang menetap di hati kita
Lantas menjadi sumber inspirasi kebaikan bagi sekitar
Menyayangi alam, memahami kebesaran Tuhan
Berhenti bertingkah kekanakan
Itulah hakikat pendakian tersebut

Kita tidak bicara berapa banyak kota yang kita kunjungi
Berapa lembar foto hebat yang kita dapatkan
Tapi berapa banyak pelajaran yang tinggal di kepala kita
Lantas menjadi sumber kebermanfaatan bagi orang lain
Memahami keanekaragaman dan perbedaan
Berhenti sombong dan berlebihan
Itulah hakikat sebuah perjalanan

Lakukanlah perjalanan mengelilingi dunia, Kawan
Kunjungi tempat2 indah dan spesial
Bukan untuk dicatat, difoto lantas dipamerkan
Tapi simpel, perjalanan adalah perjalanan
Dia akan mendidik kita dengan lembut
Tentang banyak hal

*Tere Liye


Repost dari page fb bang tere liye, https://www.facebook.com/darwistereliye

Sabtu, 09 November 2013

Hal kecil(yang penting) yang kadang kita lupakan



Pelajaran memang bisa datang dari mana saja, tidak harus selau dari buku-buku, motivator, internet, bahkan dari teman-teman di sekitar kita pun pelajaran itu bisa kita dapat. Asal kita mau sedikit mengamati.Nah, pelajaran yang satu ini saya dapat dari teman senasib seperjuangan pada masa kuliah saya (sekarang pun juga masih kuliah sih) , jadi walaupun teman saya ini sama slengeannya kaya saya, sama ga benernya , haha, tapi ada satu sikap dia yang membuat saya acungi jempol, apa itu? Yaitu dia kalau makan selalu menghabiskannya sampai butir nasi yang terakhir.

Saya pun juga sebenarnya kalau makan  jarang menyisakan makanan, hanya beberapa kali saja,insya Allah dihabiskan, namun habis  versi –nya saya dan kebanyakan orang biasanya sih pasti masih menyisakan beberapa butir nasi. Ya, jadi tidak habis sampai butir nasi yang terakhir. Sepintas mungkin ini merupakan hal kecil , hal biasa, tapi apa iya begitu?

Coba kita lihat perhitungan di bawah ini..,




Ternyata eh ternyata ya masih banyak kasus kelaparan di di dunia ini, di saat kita besok berpikir mau makan apa, di belahan bumi yang lain mungkin ada yang bingung besok bisa makan atau tidak. Lalu apakah dengan kita selalu menghabiskan sampai sebutir nasi bisa mengurangi kasus-kasus kelaparan yang terjadi? Mungkin secara langsung tidak, tapi setidaknya kita menghargai diri kita dan makanan itu sendiri, dan bahkan hal itu bisa melatih kita utuk berpikir dua kali sebelum makan.Apakah mau makan secukupnya apa mau makan berlebihan? Yah itu pilihan, asal syaratnya satu, dihabiskan.

Sejak kecil pun ayah dan ibu kita mungkin sering cerewet mengingatkan kita soal menghabiskan makanan ini, “jangan buang-buang makanan, ntar nasinya nangis “,atau “hargai kerja keras petani, bikin beras ga gampang”. Yah nasihat orangtua pasti maksudnya selalu baik.

Oh ya, Kalian tau saat2 yang paling nikmat menyantap makanan? Ya, pada saat kita benar-benar kelaparan, bahkan nasi dan kerupuk pun sangat nikmat rasanya. Kalau bagi kita yang muslim, mungkin ketika bulan ramadhan ketika saat berbuka puasa setelah seharian benar-benar berpuasa, mungkin ditambah dengan bekerja dan berolahraga. Waktu berbuka rasanya pasti nikmat sekali, sebenarnya, mungkin itu salah satu intinya puasa, mengajarkan sedikit penderitaan untuk pemahaman yang mahal harganya

Saya sendiri pun pernah mengalami saat2 kelaparan , dulu waktu masa kaderisasi masuk organisasi pecinta alam di kampus,waktu kegiatan survival di hutan, di mana hanya boleh makan dan minum hanya dari bahan-bahan yang tersedia di hutan, rasanya perut keroncongan sekali saat itu, saya benar-benar merasakan lapar yang sebenar-benarnya lapar. Lalu baru saat acara penutupan lah saya benar-benar merasakan nikmatnya apa itu makanan. Seharusnya sih itu menjadi salah satu pelajaran yang berharga yang saya alami soal makanan,  karena merasakan langsung apa itu lapar. Namun, entah kenapa pelajaran berharga tersebut menguap begitu saja seiring hari-hari ,buktinya? Kadang-kadang saya masih menyisakan makanan. yah mungkin salah satu penyebabnya hal ini belum terpatri ke alam bawah sadar, berarti belum dibiasakan.

Oh ya, apa kalian sering sebal, jengah kalau melihat berita-berita  mengenai pejabat-pejabat koruptor ? Kalau iya, sama, saya juga. Contohnya mungkin yang membuat kita sebal, ketika pejabat-pejabat tersebut menumpuk harta kekayaannya dengan korupsi dan apalah itu , dan kita bertanya-tanya, “memangnya gaji dia kurang apa?” Lalu kita berkomentar,”di wilayah kekuasaan pejabat tersebut,banyak sebenarnya yang perlu di perbaiki di sektor pendidikan, infrastruktur ,dsb, lebih baik dia gunakan harta kekayaannya itu untuk membantu sesama, tidak etis rasanya seorang pejabat bermewah-mewahan di saat ada rakyatnya yang masih kesusahan”, mungkin kira-kira begitu inti komentar-komentarnya dari yang saya baca di media massa dan saya lihat di televisi.

Saya sering berpikir bagaimana kalau seandainya kita yang diberitakan di media massa, di televisi. Isi beritanya mengenai kita yang selalu makan mewah, selalu makan berlebihan , dan sering menyisakan makanan. Lalu yang menontonnya adalah saudara-saudara kita yang kelaparan, lalu berkomentar, “mubazir banget nasinya”,”mending buat kita”, “ga etis rasanya makan berlebihan di saat masih ada yang kelaperan”,dsb, kesimpulannya,berarti mungkin aja sebenarnya, sejatinya  kelakuan kita ga berbeda jauh sama koruptor-koruptor itu, pejabat penumpuk harta itu, hanya mungkin di ruang lingkup yang lebih kecil dan ga di beritain aja. Jadi ingat , selalu ngaca dulu, biar ganteng

Ya, mungkin menyisakan makanan bagi kita yang berkecukupan ini merupakan hal-hal kecil (yang penting) yang kadang kita lupakan, tapi mungkin tidak bagi yang sedang kelaparan. Jadi ya, intinya, diinget-inget dan dibiasain aja, untuk selalu berusaha menghabiskan makanan sampai butir nasi yang terakhir. Yang penting berusaha menghabiskan dulu deh…

Cuma mau menuangkan isi pikiran,cuma mau ngingetin sih, tapi jangan lupa ngingetin saya juga yaa, trima kasih

Firman Fakhri
10 November 2013



Rabu, 06 November 2013

Nasihat Orangtua : “sing legowo to lee”



“Hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan”

Kalimat di atas tentu sudah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari , namun apa maksudnya yaa?

Saat mendengar kalimat tersebut ada beberapa hal yang saya pikirkan…

Pertama, hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan  karena memang kita kurang berusaha untuk mendapatkannya, ekspektasi , harapan-harapan kita terlalu tinggi , berbanding terbalik dengan tindakan kita. Contohnya, dulu ketika sma saya ingin sekali masuk fakultas FMIPA di universitas favorit, namun gagal, dan memang dulu saya terlalu santai, kurang berusaha, merasa sudah bisa mungkin, akibatnya yaa gagal.

Kedua, hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan karena memang masih ada sesuatu yang salah. Maksudnya begini, setiap tujuan pasti dimulai dari langkah pertama, sampai dengan langkah yang terakhir hingga tepat di tujuan. Jadi setiap tujuan pasti terpecah menjadi beberapa step, beberapa langkah yang harus dilalui. Kalau kita tidak tiba di tujuan , berarti ada langkah-langkah kita yang kurang benar, masih ada sesuatu yang salah. Intinya sih, kita kurang ilmu nya untuk mencapai tujuan kita itu, padahal segala sesuatunya pasti ada ilmunya.

Ketiga, hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan karena kita hidup di dunia tidak sendiri. Jadi begini, setiap orang punya anugrah kehendak bebas dalam dirinya masing-masing, yang artinya tiap orang bebas memilih apa yang akan dilakukannya, dan kita tidak bisa mengendalikannya, satu-satunya yang dapat kita kendalikan adalah diri kita masing-masing.Lalu apa hubungannya ? ya itu, kebanyakan tujuan pasti tidak mungkin kita capai sendiri, pasti melibatkan, membutuhkan bantuan orang lain.Karena kita hidup tidak sendiri.

Keempat, hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan mungkin karena kita belum siap menerima apa  yang kita inginkan. Jadi singkatnya kalau kata bang tere liye begini “Kalau kita tidak bersyukur atas hal2 kecil, maka bagaimana kita bisa menjamin akan bersyukur hal2 yang besar? Boleh jadi itulah kenapa hal2 besar itu tidak mendekat”

Kelima, hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan karena memang itu sudah ketentuan Tuhan. Tuhan tau yang terbaik untuk kita.Kenapa? Jawaban sementara saya saat ini dengan pemahaman saya yang terbatas mungkin begini,kadang kita justru tau pemahaman hidup, kesadaran akan hidup justru dari hal-hal yang tidak kita inginkan, dan pemahaman hidup itulah hal yang sangat mahal harganya, pemahaman hidup itulah yang membuat kita menjadi manusia lebih bernilai, yang lebih bermanfaat,mungkin begitu siih.bagaimana menurut kalian?

Ya, jadi itu beberapa hal yang saya pikirkan. Lalu bagaimana sikap kita kalau “hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan”?? 

Tidak usah jauh2 mencari jwabannya, saran saya sih ingat-ingat saja pesan orang tua kita, karena menurut saya orangtua pasti sudah berpengalaman  akan hal-hal begini.

Kalau nasihat orang tua saya sih seperti ini biasanya dengan logat bahasa jawa,hhe, “sing sabaar lee”, “yo syukuri aja to lee”, yoo wiis “sing legowo to lee”

Ya mungkin hanya itu intinya, sabar aja, syukuri aja, dan legowo (terima aja dengan ikhlas)

Dan kalau bisa seperti itu, rasanya sih tidak ada lgi istilah “hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan”

Tapi eksekusi memang tidak semudah ucapan ,semaangaaatt!!

*firman fakhri
6 November 2013

© Free Like a Swallow 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis