Selasa, 11 Februari 2014

Biasa-biasa saja lah

Teringat nasehat teman dulu, ketika saya sedang mengalami kepercayaan diri yg tidak stabil, katanya “jangan pernah melihat dan mengagumi kehebatan seseorang tanpa pernah melihat proses yang dia alami sampai sehebat itu, begitu juga sebaliknya jangan pernah meremehkan seseorang tanpa melihat dengan lebih objektif”

Kita semua pasti mempunyai kelebihan ,namun itu tidak bisa dijadikan alasan untu merasa lebih baik daripada orang lain, begitu juga sebaliknya, kekurangan pun tidak bisa kita jadikan alasan untuk merasa lebih rendah dari orang lain, karena pada dasarnya kita ini manusia.

Coba dipikir,Toh kalaupun ada fakta bahwa kita lebih pintar dari sebagian yang lain, itu hanya karena kita tahu lebih dahulu , karena mungkin kita menerima pengetahuan bagaimana cara2 menjadi pintar yang orang lain belum tahu.

 Kalaupun fakta memang menunjukkan sikap dan kelakuan kita memang lebih baik daripada sebagian yg lain, itu hanya karena kita tahu dan sadar lebih dulu, bagaimana manfaat dan efek sikap baik itu yang mungkin orang lain belum tahu.

Kalupun kita memang sama2 tahu,dan fakta memang menunjukkan bahwa kita memang lebih baik dari sebagian yang lain,mungkin saja karena kita mengerti bahwa tahu saja tidak cukup, harus ada tindakan.Kita lebih baik karena melakukan tindakan yang orang lain tidak lakukan. Dan mungkin kita bisa melakukan tindakan-tindakan itu didukung oleh lingkungan yang memadai, masalahnya lingkungan orang berbeda-beda, karena itu pula masalahnya juga berbeda-beda, tiap orang mempunyai kapasitasnya masing-masing, berdasarkan kewajiban, prioritas, dan tanggungjawabnya saat itu.

Dan pada faktanya juga, kita ga bisa melakukan semua pekerjaan di dunia ini, pasti ada satu atau dua hal yg kita fokus untuk lakukan dan kita kuasai,jadi kita saling bekerja sama menutupi kekurangan yang lain, begitu juga sebaliknya.

Dan ingat ,kita ini hidup berdampingan dengan waktu , kita ga bakal tau orang yang kita anggap remeh, dalam 4-5 tahun ke depan akan menjadi seperti apa, lebih hebat atau tidak,dan begitu juga sebaliknya, Jadi ingat, kelebihan dan kekurangan kita saat ini berpacu dengan waktu.

Soalnya yaa, sadar ga sadar , tercermin dari perkataan dan tindakan kita,kadang kita merasa lebih baik lho, lebih superior, membangga-banggakan diri mulai dari organisasi, Universitas,pergaulan, pengetahuan , dll. Ingat , kita hanya tahu dan bisa lebih dulu. Jadi, kalau ada orang yg saya tau dia hebat, tapi dia rendah hati, menjaga perkataannya, tawadhu itu menurut saya sangat luar biasa , kereeen bangeet, tapi mungkin susah dilakukan kali ya. Mungkiin.

jadi intinya jagalah diri dari sifat sombong, berusahalah bersikap biasa-biasa saja. Biasa-biasa saja itu penting lho. Tapi biasa-biasa sajanya itu begini, kalau kita tahu kita lebih baik dari sebagian orang dalam satu hal,mungkin kita merasa senang dan bangga ya? Tapi hendaknya senangnya secukupnya saja, ingat hidup ini berdampingan dengan waktu,kita hanya tahu lebih dulu, ingat kita hanya menerima masukan yang orang lain tidak terima, kita hanya melakukan tindakan yg orang lain belum mau lakukan. Begitu juga dalam menyikapi kelebihan orang lain, biasa-biasa saja.Ingat tiap orang itu berbeda, mungkin kita juga punya kan kelebihan yg orang lain tidak punya dalam satu dua hal.

Jadi diulangi lagi, karena lingkungan tiap orang itu berbeda, dan tiap orang menerima masukan yang berbeda-beda di tiap lingkungannya.Dan karena pengalaman dan tahu –nya tiap orang itu tidak sama,maka saling memberi tahu yang benar dan mengingatkan itu penting, bisa lewat ucapan, dan kalau yg masih kikuk berbicara, bisa lewat media tulisan, atau yg lebih ampuh bisa dengan langsung mencontohkan, memberi teladan.

Dan jangan lupa terus mencari ilmu, karena dalam agama disebutkan Allah SWT akan meninggikan derajat orang2 yg berilmu dari sebagian yg lain, tapi tetap harus diingat, dalam agama juga disebutkan orang yg paling mulia di sisi Allah SWT adalah yg paling bertaqwa,jadi berilmu pun mungkin tidak menjamin kita menjadi orang yg paling mulia di sisi Allah SWT, tapi tetep jgn lupa mencari ilmu yaa.

Mudah-mudahan dengan menyadari hal2 tersebut di atas kita bisa lebih introspeksi diri, jangan2 sadar ga sadar, selama ini kita terlalu sombong, terlalu membanggakan diri, sering meremehkan orang, atau terlalu merendahkan dan meremehkan diri sendiri.

Terakhir, ini pun hanya pendapat pribadi ,konteksnya untuk sesama muslim, boleh jadi salah, sebagai muslim , apapun literaturnya, dasar kebenaran dan acuan yg utama tetap harus Al-Qur’an dan Hadits.

Wass

Bandung, 10 Februari 2014

Senin, 03 Februari 2014

Mungkin memang klise

Kata seorang guru ,ada satu pelajaran penting dalam hidup ini ,dan karena pola ini selalu terulang dalam hidup, maka sebenarnya dengan  berpikir, dengan bernalar pun kita bisa mengetahuinya. Pelajaran apakah itu? Hal itu adalah kita tidak akan pernah tahu dengan jelas dan tepat apa yang akan terjadi. We never know where the life exactly will lead us.

Karena itu, walaupun klise, kalimat2 berikut ini sebenarnya sangatlah ampuh. Yaitu kalimat “ tugas manusia hanyalah berusaha dengan sungguh-sungguh, hasil bukanlah area kekuasaan kita yang bisa dengan tepat kita kendalikan”, dan kalimat “hiduplah hari ini, lakukan hal terbaik yang bisa dilakukan”.

Karena memang hanya itu yg bisa kita lakukan, dalam agama pun kita diwajiban untuk  mengharapkan dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah SWT, tentu saja setelah berusaha, karenanya tawakkal itu ilmiah.

Oleh sebab itu, mempunyai keinginan, hasrat , tujuan, cita2 yg menggebu-gebu tidaklah mengapa, tapi haruslah satu paket dengan pemahaman bahwa hidup harus dijalani dengan berserah diri, penerimaan yg tulus, apa adanya,dan harus dinikmati

Nah, karena ilmu Allah SWT memang berbeda dengan ilmu manusia, dan kalaulah kita percaya bahwa tidak ada kejadian, pertemuan yg kebetulan,maka pasti ada maksud tertentu ketika kita merasa kita hidup tidak seperti yg kita inginkan.Mungkin kita memang harus “ditampar” oleh Tuhan agar kita sadar akan kelakuan2 kita, kita “ditampar” karena kita malas mengambil hikmah dari kejadian2 sebelumnya,”ditampar” agar kita memiliki kelakuan dan pemahaman hidup yg baik. Dan pemahaman inilah ygsebenarnya sangat berharga.

karena mudah2an dengan pemahaman yg baik kita bisa menjalani hidup dengan lebih tenang tentram dan lebih nikmat.

Intinya, lakukan yg terbaik sesuai ilmu, kedudukan dan kapasitas kita hari ini. Namun bagaimana kita tahu bahwa yg kita lakukan itu yg terbaik? memang banyak sekali faktor x di luar yg tdak bisa kita kendalikan, namun kalau faktor2 internal seperti malas ,menunda, mood2an yg bekontribusi trhdap kegagalan kita, maka mungkin itu bukan yg terbaik, itu salah kita sendiri. Jadi jangan menjustifikasi keadaan atas kesalahan2 kita sendiri.

Tapi mungkin memang susah melawan rasa malas, menunda, hawa nafsu, ketakutan akan masa depan yg belum jelas,kalau memang kebanyakan seperti itu kejadiannya, maka mungkin kita harus saling memberi semangat dan saling mengingatkan. Bisa lewat tindakan, teladan, contoh, ucapan, ataupun tulisan.

Ya jadi Do the best saja lah,sesuai kapasitas masing2 dan janga lupa saling ngasih support, Semangaat kawaan2 !! hhe

After All, ini hanya pendapat sih, acuan yg pertama dan utama tetap harus Al-Qur’an dan Hadits.

Bandung, 3 Januari 2014





Senin, 13 Januari 2014

Tidak Ada Demokrasi Untuk Orang Bodoh



“Bagaimana mungkin kita akan memercayakan keputusan pada orang yang tidak mengerti apa yang sedang mereka pilih atau putuskan? Atau yang lebih ekstrem lagi, mereka berkepentingan atas keputusan tersebut.
Frankly speaking, demokrasi jelas cara terbaik untuk mencari uang. Misalnya, kau seorang konsultan politik. Atau kau pemilik bisnis, perusahaan raksasa, konsesi pertambangan, perkebunan, dan sebagainya. Karena jelas lebih mudah menyumpal, membeli, eh maksudku dalam bahasa halusnya: menanamkan investasi pada pemerintahan yang dipilih rakyat dibanding memelihara rezim diktator dengan preferensi terbatas.


Lantas di mana relevansinya antara bodoh dan demokrasi? Bukankah Anda tahu kalau suara rakyat adalah suara Tuhan, di mana letak bodohnya?


Nah, kita bayangkan saja ada sebuah perkampungan. Kampung itu dikelilingi sungai besar. Satu-satunya akses keluar adalah jembatan beton yang dibangun berpuluh-puluh tahun lalu oleh pemerintah pusat. Pada suatu hari, salah satu penduduk yang sedang mencari ikan di sungai melihat ada yang ganjil dengan jembatan itu. Fondasinya yang terbenam di air terlihat retak. Karena dia adalah sedikit di antara penduduk kampung yang memiliki pengetahuan tentang konstruksi, dia bergegas mengusulkan pada kepala kampung agar jembatan itu direnovasi. Mendesak, segera mungkin.


Masalahnya, tidak murah memperbaiki sebuah jembatan. Seluruh warga dikumpulkan di balai kampung. Semua diminta pendapatnya. Demokrasi. Pertanyaannya adalah apakah mereka segera memperbaiki jembatan itu dengan menggunakan iuran warga atau menunggu pemerintah pusat yang entah kapan baru bisa memperbaikinya. Itu pendekatan mengambil keputusan yang fatal sekali, bukan? Meskipun seluruh dunia bilang itu cara terbaik: demokrasi.


Karena mereka tidak paham konstruksi sipil, mereka tidak mengerti tentang standar keselamatan, maka mereka berdebat hanya setahu dan menurut perasaan saja. Dan lebih dari itu, tidak banyak warga yang bersedia memberikan iuran perbaikan jembatan. Mereka berkepentingan atas implikasi keputusan tersebut, lebih baik uangnya untuk keperluan lain. Berdebat hingga malam, ketua kampung memutuskan mengambil keputusan dengan suara terbanyak. Bisa ditebak hasilnya, suara menolak menang mutlak. Palu diketukkan di meja. Perbaikan ditunda. Selesai.


Tiga minggu berlalu, di suatu pagi yang cerah, saat warga sedang banyak-banyaknya melintas di jembatan itu, anak-anak berangkat sekolah ke kampung lain, jembatan itu tiba-tiba runtuh. Tiga mobil angkutan pedesaan langsung meluncur deras bersama kepingan beton. Lima belas anak meninggal ditelan sungai, tertimpa batu, terjepit. Lima anak lainnya meninggal saat dibawa ke rumah sakit terdekat. Benar-benar harga mahal yang harus dibayar dengan suara terbanyak, bukan?


Apakah demokrasi sistem terbaik yang diberikan Tuhan? Difirmankan Tuhan dalam kitab suci? Jelas tidak. Demokrasi adalah ciptaan manusia. Dalam catatan sejarah, sistem otoriter absolut juga bisa memberikan kesejahteraan lebih baik. Tuhan hanya memerintahkan kita memberikan sebuah urusan kepada ahlinya. Silakan cek banyak kitab suci. Hanya itu. Tidak ada model pemerintahan apalagi demokrasi dalam ajaran kitab suci.


Apakah suara terbanyak adalah suara Tuhan? Omong kosong. Berani sekali manusia mengklaim sepihak, fait accompli suara Tuhan. Coba kau bayangkan sebuah kota yang dipenuhi pemabuk, pemadat, mereka mayoritas, maka saat undang-undang tentang peredaran minuman keras dan ganja disahkan melalui referendum warga kota, otomatis menang sudah mereka. Bebas menjual minuman keras di mana-mana, mabuk-mabukan di mana pun. Juga masalah lain seperti pernikahan sesama jenis, kebebasan melakukan aborsi bayi. Bahkan dalam kasus ekstrem jika mayoritas penduduk kota sepakat pembunuhan adalah tindakan legal, maka di mana suara Tuhan?


Tapi poin yang ingin aku tekankan jelas sekali, tidak ada demokrasi bagi orang-orang bodoh. Lebih jelas lagi, tidak ada demokrasi bagi orang-orang yang berkepentingan. Dia menjadi kontra argumen atas sistem itu sendiri.”




*tulisan diatas diambil dari novel “Negeri di Ujung Tanduk” karangan Darwis Tere Liye, yang mungkin bisa membuat kita sedikit mengerti mengenai demokrasi.
Intinya mungkin begini, dalam suatu permasalahan, perlu di pikirkan suatu solusi, setelah itu keputusan harus diambil. Masalahnya adalah bagaimana kita tahu solusi dan keputusan yg diambil itu tepat atau tidak , benar atau tidak. Dalam demokrasi, keputusan diambil berdasarka suara terbanyak, masalahnya kebanyakan orang belum tentu benar.bisa jadi satu orang yang ahli yg benar, yg mengerti permasalahannya , tergantung konteks masalahnya.intinya, serahkan pada ahlinya.

Saya ingat Mbah sudjiwo tedjo pernah mengatakan dalam acara mata najwa, 8 januari 2014 , katanya ,berdasarkan mahzab al-ghazali,ada tiga kategori kebenaran , kurang lebih seperti ini yg saya dengar, tiga kebenaran itu adalah kebenaran yg di dasarkan pada 1. Diri sendiri ;2. Orang banyak; 3. Yang Sejati.  Tentu saja yg benar adalah yg ketiga. Kalau dalam demokrasi, intinya meletakkan kebenaran orang banyak sebagai kebenaran sejati, padahal belum tentu sejati.

Lantas yg sejati itu bagaimana? Yg benar itu bagaimana? Entahlah, saya saat ini juga belum tahu. Belum banyak ilmu yg saya telusuri mengenai sistem2 pemerintahan. Tulisan ini pun juga tidak bermaksud sebagai tulisan anti-demokrasi,namun gambaran cerita di atas mungkin bisa memberikan stimulus, rangsangan bagi siapapun yg membacanya terutama diri saya sendiri, untuk terus “membaca”, belajar, bagaimana sih seharusnya yg benar?

Lantas bagaimana mengenai masalah memilih pemimpin di negeri kita ini? Bukankah Negara kita ini Negara demokrasi, kalau saran teman saya sih jangan terlalu apatis, idealis, berbuat lah yg terbaik sesuai realitanya, sesuai dengan kapasitas masing2.  Contoh dalam konteks kita sebagai pelajar/ mahasiswa, kalau kapasitas kita mampu untuk bermanuver penuh, melakukan aksi, kritik , yah silahkan kalau dirasa memang baik dan benar. Tapi kalau tidak, ya berbuat sesuai kapasitas masing2 saja, karena kita semua pasti memiliki masalah masing2, kepentingan dan ambisi masing2, yg membuat kita tidak bisa ber-manuver penuh. Asal jangan menjelekkan satu sama lain saja.

Mungkin sebagai pelajar,saat ini langkah kecil yg bisa kita ambil seperti mulai biasakan membaca Koran , menonton berita, untuk tahu keadaan politik di negeri ini,  siapa tokoh2 yg dirasa baik untuk memimpin negeri. Atau kalau tidak sempat, Tanya saja, ngobrol saja sama teman-teman kita, orangtua, guru  yang kita rasa tahu tentang keadaan di negeri ini. Jadi , walaupun demokrasi,pada saat pemilu, dengan langkah2 kecil tadi,setidaknya kita berusaha meningkatkan kemungkinan siapa pemimpin yg layak untuk negeri ini, bukan?

Baru di masa depan, kalau memang kita punya power, kekuatan, kekuasaan, masa, berkontribusilah dengan kekuatan penuh, bantu negeri kalau di rasa sistemnya kurang benar, kalau untuk sekarang sih, yah ingat kata-kata orang tua,yang paling utama sbgai pelajar, ya banyak2 belajar ,jangan neko-neko, kejar cita-cita,banyak2 ambil hikmah dari suatu kejadian, mungkin begitu..

Yang ingin melihat review dan rating bukunya :Klik Di sini

Tangerang, 13 Januari 2014



Senin, 30 Desember 2013

Soal Teladan yang Utama

Untuk yg muslim ya..

Kalau kata banyak motivator-motivator, salah satu cara untuk mencapai suatu tujuan atau goal adalah dengan mempelajari model. Model di sini pun tentunya sesuai dengan tujuan masing-masing. Misalkan kalau kita ingin menjadi pemain sepak bola yang jago seperti messi atau Ronaldo, ya sudah, kita tinggal tiru langkah-langkah apa , latihan apa, tindakan apa yang mereka lakukan,seberapa banyak, seberapa keras, waktu yg dikorbankan sampai mereka menjadi sejago itu. Yah, meskipun tidak mungkin sama persis , minimal medekati lah, mungkin.

Metode ini pun konon katanya digunakan bangsa jepang untuk bangkit dari keterpurukannya setelah kalah perang, sampai bisa sehebat ini. Intinya, tiru , perbaiki, dan modifikasi. Tentu saja yg ditiru, bukan hanya langkah-langkahnya, cara-caranya saja, namun juga pola pikir, cara berpikir orang yg ditiru sampai mereka bisa menghasilkan langkah-langkah, tindakan yg hebat, yg bisa membawa mereka kpda hasil yg diinginkan.
Nah, karena saya juga belum tau banget metode meniru model yg benar, yg kongrkrit  tuh bagaimana,biar sukses,maka bukan itu yg ingin saya smpaikan, mungkin banyak cara2nya yg bisa    di dapatkan dari buku2, pelatihan, atau seminar2.

Yang ingin saya smpaikan di sini adalah sebagai muslim, ternyata  dalam agama kita Allah SWT pun sudah menyiapkan kita model, seorang teladan , uswatun hasanah, tidak lain dan tidak bukan adalah Rasulullah SAW.Rasulullah adalah model yang sempurna yg dapat kita tiru akhlaknya, kepribadiannya, dalam rangka menggapai tujuan utama kita hidup di dunia ini, yaitu menggapai ridha Allah SWT.

Soal teladan atau idola, pada jaman sekarang, saya yakin banyak sekali orang-orang hebat di sekeliling kita yang dapat kita tiru perilakunya sesuai tujuannya masig2, namun seorang penulis pernah memberitahu saya, kalau kita seorang muslim, seharusnya jangan sampai teladan kita yang paling pertama, yg paling utama bukanlah Rasulullah SAW.Pokonya yg pertama harus Rasulullah SAW

Karena begini, sebagai seorang muslim, apa sih tujuan kita hidup?apa sih yg kita tuju?, jawabannya adalah Ridha Allah SWT, yang kalau kita dapatkan akan membawa kita ke tujuan akhir, yaitu Surga.Semuanya pasti ingin masuk surga, kan?. Nah itu salah satu alasannya kenapa kita harus mejadikan Rasulullah sebagai teladan utama kita.Karena setau saya, Rasulullah adalah manusia yang telah dijamin masuk surga oleh Allah SWT.

Logis kan kenapa harus Rasulullah sebagai teladan kita yg utama? Karena kalau kita menjadikan model yg paling utama selain Rasulullah, toh orang yg kita tiru belum tentu juga diridhai Allah SWT,belum tentu jga dijamin langsung masuk surga kan.Sedangkan Rasulullah pasti langsung masuk surga, karena Allah SWT pasti ridha juga kepadanya. Nah , meskipun kita tidak mendapat cobaan seberat rasulullah, tidak sesabar, dan akhlaknya tidak seindah rasulullah, kalau kita menjadikanya sebagai model utama kita , sebagai teladan utama kita, insya Allah jalan dalam menggapai Ridha Allah SWT, dalam menuju surganya,sekali lagi jalannya ,insya Allah sudah lurus, ga belok-belok lagi.

Tentu saja tidak mengapa kalau kita jadikan orang2 sekitar kita yang kita anggap baik dan benar sebagai teladan kita, namun tetap yg harus kita jadikan teladan yang paling utama,sebagai muslim adalah Rasulullah SAW. Nah, karena kita tidak hidup di jaman di mana Rasulullah masih hidup,tidak melihat langsung, adalah sangat penting kita “membaca” ,menelusuri sejarah , biografinya, bagaimana akhlaknya, kesehariannya, dll.

Setelah tau? Lalu apa lagi, kalau mengutip kata dari dosen saya, informasi itu kekuatan, namun belum menjadi sebenar-benarnya kekuatan sampai informasi itu ditindaklanjuti.Tahu saja ga cukup.Knowing the path is different than Walking the path, tahu kan maksud saya? Nah karena kita manusia, tempatnya salah dan lupa, sering malas dan menunda,maka sepertinya akan lebih baik kalau kita saling ngasih tau, saling mengingatkan satu sama lain.biar asik,biar hidup lebih fullfill, biar ga seneng sendiri doang.Mungkin begitu..
*firman fakhri
30 Desember 2013

Kamis, 12 Desember 2013

Ibadah dan Ridha Allah



Untuk yg muslim yaa..

Sebagai muslim , kebanyakan kita mungkin sudah tahu apa tujuan kita diciptakan oleh Allah SWT di dunia ini, kalau lupa akan saya bantu ingatkan, hal tersebut tertulis dalam surat Ad-Dzariyaat ayat 56 yang artinya sebagai berikut

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

Sebenarnya sangat menarik kalau kita telaah lagi kalimat dalam ayat tersebut, dalam ayat tersebut  Allah SWT tidak mengatakan “Aku menciptakan  jin dan manusia supaya mereka beribadah kepada-Ku” tapi menggunakan dua kalimat negasi yaitu “tidaklah” dan “melainkan”,yang artinya apa? Artinya kita diciptakan di dunia ini hanya dan untuk hanya beribadah kepada Allah SWT.ingat, hanya dan untuk hanya. Tidak ada tujuan lain selain beribadah kepada Allah SWT.

Lalu apa pengertian ibadah? Ibadah memiliki asal kata “abdu” atau “abdi” dari bahasa arab. Dalam bahasa Indonesia pengertian secara harfiahnya adalah menyembah. Jadi ibadah pengertiannya adalah menyembah kepada Allah SWT.Namun , tentu saja ibadah tidak bisa kita artikan dalam sesuatu hal yang bersifat sempit seperti ibadah ritual saja. Ibadah dalam hal ini bagaimana kita melakukan segala sesuatu , segala aktivitas dalam hidup kita karena Allah, sepanjang  sesuai dengan aturan agama, sesuai Al-qur’an dan hadits.

Namun seorang teman pernah berkata pada saya, biasanya kita beribadah untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya dan beribadah hanya karena takut masuk neraka dan pasti kita inginnya masuk surga. Apakah hal ini benar? Saya pikir tadinya mungkin tidak apa-apa, karena memang kecenderungan manusia adalah mencari kenikmatan dan menghindari kepedihan. Dan bukankah dalam agama kita diajarkan kalau timbangan pahala, kebaikan kita lebih berat dari keburukan, kita akan masuk surga.

Saya pikir tidak apa-apa tadinya,tapi seorang teman memberikan nasihat lagi, biasakanlah mindset kita dalam beribadah tidak hanya sekedar ibadah tok, tidak hanya sekedar ingin imbalan berupa pahala dan surga, tapi mindset yang harus kita utamakan pertama kali dalam beribadah tidak lain dan tidak bukan adalah hanya untuk mencari Ridha Allah SWT.

Ya , Ridha Allah SWT.Pertanyaannya sekarang, apa itu Ridha?. Saya akan kutip dari tulisan Abu Marlo dalam bukunya, “entepreneurship hukum langit” . “Ridha artinya disukai. Artinya ketika ingin mendapatkan Ridha Allah, kita harus senantiasa menjadi hamba yang selalu Allah suka. Harus selalu mulia di mata Allah sehingga apapun bentuk kegiatannya Allah akan senantiasa menyukai kita”

Saya pikir hal ini sangat logis.Karena coba kita pikir,kalau niat utama kita yang pertama adalah hanya sekedar ibadah, seringkali kan kita setelah ibadah lalu merasa sudah mendapatkan pahala, padahal bisa jadi Allah tidak suka dengan apa yang kita kerjakan, kalau Allah tidak suka bagaimana mungkin kita dapat pahala, bagaimana mungkin juga masuk surga.

Namun lain halnya kalau mindset kita yang utama adalah mencari keridhaan Allah SWT

Pertama,kalau mindset kita adalah mencari keridhaan Allah, kita akan selalu meng-eveluasi diri kita sendiri, selalu introspeksi, “bener ga ya aktivitas yang saya lakukan ini disukai Allah?”, “bener ga ya yang saya lakukan sesuai dengan aturan agama?, “sudah benar belum ya, sholatku hari ini?”

Kedua, kalau mindset kita adalah mencari keridhaan Allah, efek dari yang pertama, kita akan terus termotivasi untuk belajar, untuk selalu “membaca” , untuk selalu mencari ilmunya, apakah ibadah , aktivitas yang kita lakukan sudah sesuai aturan agama, sesuai dengan syariat. Karena segala sesuatu harus berdasarkan ilmu. Agama pun mengajarkan bahwa kita dilarang mengikuti sesuatu tanpa ilmunya.seperti yg tertulis dalam surat Al Israa ayat 36

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” .(Q.S. Al Israa (17) : 36)

Karena itu, “membaca”, mencari ilmu itu sangat penting. Hal yang paling saya takutkan adalah ketika saya mengira saya sudah berbuat baik , namun ternyata salah di hadapan Allah SWT. Karena itu baik saja tidak cukup, harus benar, efektif dulu baru efisien. Peringatan ini tertulis dalam surat Al-Kahfi ayat 103-104

“Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?.Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya “( Q.S Al-Kahfi (108) :103-104)

Ketiga, yang sangat penting juga, kalau mindset kita selalu mencari keridhaan Allah,insya Allah kita akan terhindar dari sifat sombong. Sering kan kita merasa lebih baik, lebih hebat, dari orang dalam hal ibadah, atau mungkin riya dalam ibadah.Nah, kalau mindset kita mencari Ridha Allah, kita akan senantiasa berpikir, contohnya seperti “sudah benar belum ya sholat saya hari ini?”sudah sesuai syariat belum ya?aduh tadi saya sholat hanya karena ingin dilihat , dipuji orang atau ga ya?”

Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan selalu membuat kita ingat bahwa kita ini manusia, tempatnya salah dan lupa, dan hal ini akan membuat kita tidak merasa lebih baik dari orang lain, selalu rendah diri di hadapan Allah SWT, selalu meminta ampun, selalu beristighfar setiap hari. Bahkan Rasulullah pun yang sudah dijamin masuk surga selalu beristighfar setiap hari bukan?

Jadi intinya dari semuanya adalah Ridha Allah SWT. Bagaimana agar Allah SWT selalu menyukai kita, Kalau Allah sudah menyukai kita,  bukan hanya pahala, bahkan surga pun akan kita dapatkan, bukan?.Amiiin, Insya Allah.

Firman Fakhri

12 Desember 2013

Kamis, 05 Desember 2013

Sepucuk Surat dari Soe Hok Gie dan idealisme


Soe hok gie adalah salah satu tokoh pergerakan pemuda pada tahun 1960-an. Dia juga merupakan seorang penulis dan juga seorang pencinta alam. Bagi saya, dia merupakan salah satu tokoh idealis, yang teguh memegang prinsip-prinsip yang diyakininya, walupun konsekuensinya sampai ditinggalkan teman-temannya. Hal ini disampaikan melalui surat yg ditulis olehnya kepada temannya, Riandi, tertanggal 10 Oktober 1967.

Begini isi suratnya yang saya ambil dari buku “Soe Hok Gie…sekali lagi” pada hal.337

“ Muchtar Lubis bilang pada saya, bahwa kalau seseorang memilih jalan jujur, hidupnya akan berat sekali. Dia akan kesepian, dijauhi kawan dan dibenci banyak orang. Mungkin sampai kita mati, kita akan terus seperti ini.Beranikah kita berdiri sendiri? Kalau kita berani, majulah menuju dataran yg sepi dan kering. Tapi di sana ada kejujuran. Terus terang saja, kadang-kadang saya takut sekali. Tapi selama saya bisa mengatasi ketakutan, saya akan maju terus.Sampai akhirnya saya patah. Kadang-kadang saya bertanya, mengapa saya dilahirkan sebagai orang keras kepala dan sombong?”

Saat membaca surat tersebut, banyak paradoks yang muncul di kepala saya. Apa benar kalau kita hidup jujur, memegang teguh prinsip2 hidup yg baik , yg universal sesuai hati manusia, hidup kita akan berat. Bukankah kalau seperti ini yang akan mendukung langsung kita adalah Tuhan dan seluruh alam semesta?

Namun, soe hok gie pasti mempunyai alasan kenapa dia menulis surat seperti itu, mungkin sesuai pengalaman hidupnya. Tiap tulisan, pendapat, pasti memiliki keabsahannya masing-masing tergantung konteksnya, bisa jadi mengandung kebenaran juga. Dan kalau dipikir lagi, ternyata banyak contohnya dalam kehidupan sehari-hari kita sekarang, seorang yang jujur dan idealis, namun tidak disenangi orang.

Kita ambil contoh dalam kehidupan seorang akademisi sehari-hari, yaitu contek mencontek. Dalam hal ini contek mencontek saat ujian. Jujur, saya pun kadang melakukan ini pada waktu  masa sekolah atau kuliah, sampai sekarang. Makanya , di sini saya Cuma mau menuangkan uneg-uneg, sampah-sampah pikiran yg ada di kepala saya, biar tidak lupa.bukan untuk sok2 menasehati.

Oke, jadi ngaku sajalah kita selama sekolah dan kuliah pasti sering contek mencontek saat ujian. Atau okelah kita tidak mencontek, tapi kita sering memberikan jawaban, tidak saling mengingatkan dan saling melindungi.

Tapi ayolah, kita pasti tau ini tidak benar, ya kan, dan alasannya pasti kita juga sudah tau. Waktu kecil pun, di SD pada saat jaman saya dulu( ga tau kalo sekarang) kadang saya dan teman masih takut nyontek  saat ujian walaupun tidak diawasi guru. Pertanyaannya, mengapa sekarang (saat sma atau kuliah) kita menganggap menyontek itu seperti hal yg biasa saja, hal yg lumrah, makanan sehari-hari, padahal kita tahu itu salah, kenapa?

Jawabannya yg pertama, ya mungkin karena dibiasakan, kedua, karena kita terbiasa berpikir kalau banyak orang yang melakukannya, maka hal itu adalah hal yang wajar, padahal yang dilakukan kebanyakan orang belum tentu benar.dan yag ketiga , karena kita tidak mengingatkan satu sama lain.

Mengenai point ketiga yang diatas, mereka yg berani mengingatkan,menurut saya , merekalah orang-orang idealis yang memegang teguh prinsip kebenaran dalam hal sekecil apapun. Salah ya salah, benar ya benar.Tapi sudah sangat jarang kita menemukan orang yag berani radikal seperti itu. bagaimana tidak, kalau ketika dia mengingatkan dia harus siap dicibir, dijauhi, ya ga sih?pada jaman sekarang,gimana perasaan kita kalau ada temen yg menegur kita mencontek, atau misalnya ga memberikan jawaban saat ujian, mungkin jawabannya seperti ini,“aaah , ga asiik lo” atau “sok-sok-an banget lo”,”pelit lo”, yah walaupun ga diucapkan, mungkin dalam hati kita sering terbesit pikiran seperti itu.

Tapi ayolah, kita butuh orang-orang idealis, apalagi di jaman seperti sekarang ini, kita butuh orang yg memiliki pemahaman yg benar, dan berani mengingatkan satu sama lain.

Karena begini, sedikit banyak kelakuan kita selama ini pasti dari kecil sampai sekarang, mendapat pengaruh dari orang lain, mendapat stimulus dari orang lain, sadar tidak sadar kita menjadikan model orang2 di sekitar kita sebagai karakter kita. Contohnya waktu kita kecil, model utama kita adalah orang tua kita. Pemikiran kita pun begitu, sadar tidak sadar pasti meniru dan mencontek pemikiran dari literatur2 yg pernah kita baca, oleh karena itu pula kita harus menyebutkan sumber  referensi dalam suatu karya .

Nah sekarang coba bayangkan yg terjadi kalau di sekeliling kita tidak ada orang yg idealis? Tidak ada orang yg memiliki pemahaman yg benar dan tidak saling mengingatkan. Bayangkan yang ada kita hanya dikelilingi oleh  kebanyakan orang2 yang bermaksud baik namun ternyata salah. Kita kehabisan teladan.Satu orang idealis melawan banyak orang yg memiliki pemahaman yg kurang benar. Apa yang akan terjadi?

Menurut pemahaman saya yg terbatas, yang akan terjadi adalah kita jadi tidak bisa membedakan dan merasakan mana hal-hal yg baik dan mana hal-hal yang salah, padahal logika tau.Yang salah dianggap biasa-biasa saja. Nilai-nilai kebenaran semakin tidak jelas. Dan akibatnya, pemahaman kita ini terwariskan oleh generasi2 di bawah kita, karena sadar tidak sadar , kita adalah model bagi generasi di bawah kita, dan sadar tidak sadar, kita juga pasti meniru dan meneladani generasi di atas kita. Karena itu , keberadaan orang-orang idealis ini sangatlah penting, tapi tentu saja, idealis di sini orang2 yg memiliki nilai2 kebenaran yang universal, sesuai hati manusia.Bukan idealis menurut pemikirannya sendiri.


Alasan lainnya,Saya yakin kebanyakan orang pasti baik, niatnya baik, namun belum tentu benar. Karen a itu , jangan langsung mencibir orang2 yg kelihatannya sok menasehati, karena boleh jadi dalam kata2nya mengandung kebenaran.Kita butuh orang2 yg selalu memberikan teladan baik. Kita butuh orang idealis. Kalau kata bang tere liye begini "kalau kita tidak bisa ikut golongan yg memperbaiki, minimal jgn ikut golongan yg merusak".minimal ga usah mencibir orang2 yg selalu mengingatkan dalam kebenaran. Terima aja kalau dirasa kita memang salah.

Dan untuk orang2 yg lebih tua, lebih paham, memang tugasnya untuk mengingatkan,sayangnya saya sering mendapatkan tren pembicaraan ini di sekitar saya, “ah, anak2 jaman sekarang payahh, manja2, beda dengan jaman kita dulu”, mungkin memang benar,tapi jangan sampai kita merasa lebih baik karena hal itu,ayolah kita coba berpikir, kita yg lebih tua juga turut andil dalam memberikan hal2 yg kita sebut tidak baik itu kepada generasi di bawah kita, agama pun mengajarkan kita untuk tidak merendahkan suatu golongan, karena boleh jadi, yg kita rendahkan itu lebih baik daripada kita.

Mengenai hal-hal yg sudah dituliskan di atas, saya takut akan beberapa hal. Saya takut saya tidak bisa membedakan mana hal2 yg benar dan hal2 yg mana yg salah, saya takut mengira saya sudah berbuat baik, namun salah di mata Tuhan. Saya takut memberikan efek2 yang tidak baik, memberikan teladan yg tidak baik kepada adik2 saya, saya takut ditanya Tuhan “kenapa kamu apatis , padahal kamu paham”?

Dan sayangya, seringnya, hal2 yg saya takutkan , justru itu yg terjadi, jujur dan maaf kalau soal menyontek di atas, saya sama aja, masih sering, masih menganggap itu hal yg lumrah , hal yg biasa, apalagi kalau soal kepedulian, mana ada, saya masih apatis banget,masih egois, masih munafik,masih sering memikirkan diri sendiri, susah sekali tcooy menjadi orang2 idealis,jadi please banget, tolong banget, selalu ingatkan saya juga dalam hal2 yg benar.makasih

Bagi yang mau tau info dan rating bukunya :https://www.goodreads.com/book/show/7299756-soe-hok-gie-sekali-lagi

Firman Fakhri
5 Desember 2013



Selasa, 03 Desember 2013

Masa kecil



Masa kecil menurutku sangat indah

Aku masih ingat masa kecilku, waktu itu , aku main apa saja yg bisa dimainkan dengan teman2 sekomplek dekat rumah,

main gundu, dengan taruhan kelereng masing2, yg kalah kelerengnya diambil

main galaksing depan rumah sambil ketawa cekikikan

 main permainan sepanjang masa anak2,tak jongkok dan tak umpet

main kuda tomprok di halaman rumahku sehabis sholat jumat, saking berisiknya, sampai2 bude pri, ibu tetangga sebelah rumah datang marah2

nangkap belalang untuk dimasukkan di botol

setiap sore bermain bola di depan lapangan masjid al hidayah dekat rumahku atau di lapangan biru di komplek rumahku.bermain sampai kadang2 hampir menjelang maghrib sehingga aku pun kena marah orang tuaku,ikut kejuaran futsal komplek dengan timku, bayu, reyhan, varez, ardi,alfian, detri, ridho,adon,eqi, sapta, masih ingat kan?

Bermain sepeda , kejar2an, salip menyalip sambil mengejar telap (istilah layangan putus),sampai hampir mau nabrak tiang

Waktu sholat di masjid becanda cekikikan sampai dimarahi pak ahmad, main sabet sarung di sela2 ceramah sholat tarawih saat bulan ramadhan,

Jajan sembarangan , dimarahin,habis itu jajan sembarangan lagi,di marahin lagi , haha

Masa kecil itu indah

Sangat berbeda dengan orang dewasa, yg  mungkin terlalu kaku,terlalu gengsi, mementingkan ego,terlalu pintar berasumsi,yg pintar beralasan, setidaknya itu yg kualami. Namun pasti bisa ko, orang dewasa dengan segala kepintarannya, namun tetap memiliki hati yg tulus seperti anak-anak. Pasti bisa,dengan segala pengalaman hidupnya, namun2 nilai2 positif yg dimiliki semasa kanak-kanak tetap terjaga. mudah-mudahan.

Firman fakhri

3 Desember 2013
© Free Like a Swallow 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis