Sabtu, 09 November 2013

Hal kecil(yang penting) yang kadang kita lupakan



Pelajaran memang bisa datang dari mana saja, tidak harus selau dari buku-buku, motivator, internet, bahkan dari teman-teman di sekitar kita pun pelajaran itu bisa kita dapat. Asal kita mau sedikit mengamati.Nah, pelajaran yang satu ini saya dapat dari teman senasib seperjuangan pada masa kuliah saya (sekarang pun juga masih kuliah sih) , jadi walaupun teman saya ini sama slengeannya kaya saya, sama ga benernya , haha, tapi ada satu sikap dia yang membuat saya acungi jempol, apa itu? Yaitu dia kalau makan selalu menghabiskannya sampai butir nasi yang terakhir.

Saya pun juga sebenarnya kalau makan  jarang menyisakan makanan, hanya beberapa kali saja,insya Allah dihabiskan, namun habis  versi –nya saya dan kebanyakan orang biasanya sih pasti masih menyisakan beberapa butir nasi. Ya, jadi tidak habis sampai butir nasi yang terakhir. Sepintas mungkin ini merupakan hal kecil , hal biasa, tapi apa iya begitu?

Coba kita lihat perhitungan di bawah ini..,




Ternyata eh ternyata ya masih banyak kasus kelaparan di di dunia ini, di saat kita besok berpikir mau makan apa, di belahan bumi yang lain mungkin ada yang bingung besok bisa makan atau tidak. Lalu apakah dengan kita selalu menghabiskan sampai sebutir nasi bisa mengurangi kasus-kasus kelaparan yang terjadi? Mungkin secara langsung tidak, tapi setidaknya kita menghargai diri kita dan makanan itu sendiri, dan bahkan hal itu bisa melatih kita utuk berpikir dua kali sebelum makan.Apakah mau makan secukupnya apa mau makan berlebihan? Yah itu pilihan, asal syaratnya satu, dihabiskan.

Sejak kecil pun ayah dan ibu kita mungkin sering cerewet mengingatkan kita soal menghabiskan makanan ini, “jangan buang-buang makanan, ntar nasinya nangis “,atau “hargai kerja keras petani, bikin beras ga gampang”. Yah nasihat orangtua pasti maksudnya selalu baik.

Oh ya, Kalian tau saat2 yang paling nikmat menyantap makanan? Ya, pada saat kita benar-benar kelaparan, bahkan nasi dan kerupuk pun sangat nikmat rasanya. Kalau bagi kita yang muslim, mungkin ketika bulan ramadhan ketika saat berbuka puasa setelah seharian benar-benar berpuasa, mungkin ditambah dengan bekerja dan berolahraga. Waktu berbuka rasanya pasti nikmat sekali, sebenarnya, mungkin itu salah satu intinya puasa, mengajarkan sedikit penderitaan untuk pemahaman yang mahal harganya

Saya sendiri pun pernah mengalami saat2 kelaparan , dulu waktu masa kaderisasi masuk organisasi pecinta alam di kampus,waktu kegiatan survival di hutan, di mana hanya boleh makan dan minum hanya dari bahan-bahan yang tersedia di hutan, rasanya perut keroncongan sekali saat itu, saya benar-benar merasakan lapar yang sebenar-benarnya lapar. Lalu baru saat acara penutupan lah saya benar-benar merasakan nikmatnya apa itu makanan. Seharusnya sih itu menjadi salah satu pelajaran yang berharga yang saya alami soal makanan,  karena merasakan langsung apa itu lapar. Namun, entah kenapa pelajaran berharga tersebut menguap begitu saja seiring hari-hari ,buktinya? Kadang-kadang saya masih menyisakan makanan. yah mungkin salah satu penyebabnya hal ini belum terpatri ke alam bawah sadar, berarti belum dibiasakan.

Oh ya, apa kalian sering sebal, jengah kalau melihat berita-berita  mengenai pejabat-pejabat koruptor ? Kalau iya, sama, saya juga. Contohnya mungkin yang membuat kita sebal, ketika pejabat-pejabat tersebut menumpuk harta kekayaannya dengan korupsi dan apalah itu , dan kita bertanya-tanya, “memangnya gaji dia kurang apa?” Lalu kita berkomentar,”di wilayah kekuasaan pejabat tersebut,banyak sebenarnya yang perlu di perbaiki di sektor pendidikan, infrastruktur ,dsb, lebih baik dia gunakan harta kekayaannya itu untuk membantu sesama, tidak etis rasanya seorang pejabat bermewah-mewahan di saat ada rakyatnya yang masih kesusahan”, mungkin kira-kira begitu inti komentar-komentarnya dari yang saya baca di media massa dan saya lihat di televisi.

Saya sering berpikir bagaimana kalau seandainya kita yang diberitakan di media massa, di televisi. Isi beritanya mengenai kita yang selalu makan mewah, selalu makan berlebihan , dan sering menyisakan makanan. Lalu yang menontonnya adalah saudara-saudara kita yang kelaparan, lalu berkomentar, “mubazir banget nasinya”,”mending buat kita”, “ga etis rasanya makan berlebihan di saat masih ada yang kelaperan”,dsb, kesimpulannya,berarti mungkin aja sebenarnya, sejatinya  kelakuan kita ga berbeda jauh sama koruptor-koruptor itu, pejabat penumpuk harta itu, hanya mungkin di ruang lingkup yang lebih kecil dan ga di beritain aja. Jadi ingat , selalu ngaca dulu, biar ganteng

Ya, mungkin menyisakan makanan bagi kita yang berkecukupan ini merupakan hal-hal kecil (yang penting) yang kadang kita lupakan, tapi mungkin tidak bagi yang sedang kelaparan. Jadi ya, intinya, diinget-inget dan dibiasain aja, untuk selalu berusaha menghabiskan makanan sampai butir nasi yang terakhir. Yang penting berusaha menghabiskan dulu deh…

Cuma mau menuangkan isi pikiran,cuma mau ngingetin sih, tapi jangan lupa ngingetin saya juga yaa, trima kasih

Firman Fakhri
10 November 2013



Rabu, 06 November 2013

Nasihat Orangtua : “sing legowo to lee”



“Hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan”

Kalimat di atas tentu sudah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari , namun apa maksudnya yaa?

Saat mendengar kalimat tersebut ada beberapa hal yang saya pikirkan…

Pertama, hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan  karena memang kita kurang berusaha untuk mendapatkannya, ekspektasi , harapan-harapan kita terlalu tinggi , berbanding terbalik dengan tindakan kita. Contohnya, dulu ketika sma saya ingin sekali masuk fakultas FMIPA di universitas favorit, namun gagal, dan memang dulu saya terlalu santai, kurang berusaha, merasa sudah bisa mungkin, akibatnya yaa gagal.

Kedua, hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan karena memang masih ada sesuatu yang salah. Maksudnya begini, setiap tujuan pasti dimulai dari langkah pertama, sampai dengan langkah yang terakhir hingga tepat di tujuan. Jadi setiap tujuan pasti terpecah menjadi beberapa step, beberapa langkah yang harus dilalui. Kalau kita tidak tiba di tujuan , berarti ada langkah-langkah kita yang kurang benar, masih ada sesuatu yang salah. Intinya sih, kita kurang ilmu nya untuk mencapai tujuan kita itu, padahal segala sesuatunya pasti ada ilmunya.

Ketiga, hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan karena kita hidup di dunia tidak sendiri. Jadi begini, setiap orang punya anugrah kehendak bebas dalam dirinya masing-masing, yang artinya tiap orang bebas memilih apa yang akan dilakukannya, dan kita tidak bisa mengendalikannya, satu-satunya yang dapat kita kendalikan adalah diri kita masing-masing.Lalu apa hubungannya ? ya itu, kebanyakan tujuan pasti tidak mungkin kita capai sendiri, pasti melibatkan, membutuhkan bantuan orang lain.Karena kita hidup tidak sendiri.

Keempat, hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan mungkin karena kita belum siap menerima apa  yang kita inginkan. Jadi singkatnya kalau kata bang tere liye begini “Kalau kita tidak bersyukur atas hal2 kecil, maka bagaimana kita bisa menjamin akan bersyukur hal2 yang besar? Boleh jadi itulah kenapa hal2 besar itu tidak mendekat”. 

Kelima, hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan karena memang itu sudah ketentuan Tuhan. Tuhan tau yang terbaik untuk kita.Kenapa? Jawaban sementara saya saat ini dengan pemahaman saya yang terbatas mungkin begini,kadang kita justru tau pemahaman hidup, kesadaran akan hidup justru dari hal-hal yang tidak kita inginkan, dan pemahaman hidup itulah hal yang sangat mahal harganya, pemahaman hidup itulah yang membuat kita menjadi manusia lebih bernilai, yang lebih bermanfaat,mungkin begitu siih.bagaimana menurut kalian?

Ya, jadi itu beberapa hal yang saya pikirkan. Lalu bagaimana sikap kita kalau “hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan”?? 

Tidak usah jauh2 mencari jwabannya, saran saya sih ingat-ingat saja pesan orang tua kita, karena menurut saya orangtua pasti sudah berpengalaman  akan hal-hal begini.

Kalau nasihat orang tua saya sih seperti ini biasanya dengan logat bahasa jawa,hhe, “sing sabaar lee”, “yo syukuri aja to lee”, yoo wiis “sing legowo to lee”

Ya mungkin hanya itu intinya, sabar aja, syukuri aja, dan legowo (terima aja dengan ikhlas)

Dan kalau bisa seperti itu, rasanya sih tidak ada lgi istilah “hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan”

Tapi eksekusi memang tidak semudah ucapan ,semaangaaatt!!

*firman fakhri
6 November 2013

Rabu, 30 Oktober 2013

Bacalah



“Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”

Kira-kira seperti itulah penggalan ayat Al-qur’an yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ketika sedang menyendiri di gua hira. Lalu , pertanyaannya sekarang adalah, kenapa? Kenapa ayat ini yang pertama kali diturunkan. Kenapa perintah “bacalah” ini yang pertama kali disampaikan kepada Nabi Muhammad?

Kira-kira ini beberapa pemikiran dari beberapa sumber yang sudah saya baca, karena menurut saya akan lebih baik bila disampaikan daripada tidak, maka akan coba saya sampaikan

Oke, jadi mengapa kita harus membaca? Jadi landasan teori yang pertama adalah hidup ini pilihan, ya pilihan, itu adalah salah satu anugrah Tuhan , kita semua dianugrahi kemampuan untuk memilih, kita punya kehendak bebas untuk melakukan apa yang kita suka, jadi, Tuhan tidak memperlakukan kita seperti bidak catur.

Lalu apa sih hal yang selalu berhubungan dengan kata “pilihan”? ya, itu adalah  “keputusan”. Hidup kita ini selalu berdasarkan keputusan-keputusan yang kita buat sendiri.contoh kecilnya misal kita tau besok ada kuliah pagi jam setengah tujuh , namun pada malam hari ada permainan video game yang sangat seru menunggu untuk dimainkan. Apa yang akan kita lakukan? Apakah  kita akan memilih begadang atau tidur? Tentu saja itu terserah kita, itu adalah contoh kecil dari sebuah keputusan.

Lalu apa yang mendasari keputusan-keputusan yang kita buat? Tentu saja hal tersebut adalah ilmu dan pengetahuan. Keputusan-keputusan yang kita buat pasti tidak semua berbuah manis, beberapa mungkin ada yang berbuah kegagalan. Jadi, ini adalah salah satu maksud agar kita terus membaca, terus belajar,Agar keputusan-keputusan yang kita buat dalam hidup lebih akurat,lebih tepat dan lebih objektif.

Lalu bagaimana agar kita objektif, agar sudut pandang kita lebih luas? Yang paling mudah mungkin dengan membaca buku dari berbaga segi keilmuan, namun “membaca” menurut saya,bisa juga dengan mendengarkan pengalaman dan nasihat orang, dan yang paling asik mungkin jalan-jalan,pergi  ke berbagai tempat, berbaur, mengobrol dengan masyarakat setempat.Saya rasa pemimpin yang baik pun adalah yang biasa merakyat, berbaur, karena bagaimana mungkin dia bisa mengambil keputusan yang  bijak jikalau haya tau dari media,  jikalau dia tiak pernah melihat kondisi rakyatnya secara langsung.Ya, kira-kira itu beberapa caranya. Oh ya, satu lagi jikalau kita mau objektif, tentu saja harus menyesuaikan dengan hukum-hukum alam yang berlaku.

Ya, hukum alam,jadi begini,kita memang dianugrahi Tuhan berupa kehendak bebas untuk melakukan apa yang kita suka, namun yang harus diingat adalah kita tidak bisa memilih resiko atas apa yang telah kita perbuat. Kenapa begitu? Karena di dunia ini ada hukum-hukum alam, hukum-hukum universal yang diciptakan Tuhan yang tidak bisa kita ubah. Nah, mungkin itulah tugas kita sebagai manusia,terus “membaca” hukum-hukum alam yang ada , menyesuaikan dengan keputusan-keputusan kita agar tidak melanggarnya, biar apa? Tentu saja agar hidup kita lebih mudah dengan tidak melanggar hukum-hukum alam tersebut.

Oh ya,tapi bagaimana kita tahu bahwa  hukum-hukum itu,aturan-aturan itu benar apa tidak?akurat atau tidak, seorang senior dulu pernah memberi tahu saya jangan langsung menelan bulat-bulat hukum-hukum, aturan-aturan,apalagi yang dibuat oleh manusa, selalu pikir kenapa aturan itu dibuat, telaah dua kali, sebelum mengambil keputusan. Kalau soal benar atau tidak, menurut saya yang paling baik adalah kembali ke kepercayaan inti kita masing-masing. Kepercayaan inti di sini adalah agama.Kalau yang muslim ,tentunya kepercayaan intinya adalah kepada Allah melalui Al-qur’an dan hadits. Jadi, berapapun banyak buku, literatur yang kita baca,kita harus puya “saringan” untuk menyaring informasi-informasi tersebut yang apakah sesuai dengan kepercayaan inti kita. 

Jadi itu, menurut saya beberapa alasan mengapa kita harus “membaca”, dan lagipula "membaca" juga seakan memenuhi dahaga akan keingintahuan kita,dan yang paling penting "bagaimana" dengan membaca kita dapat menjadi lebih heppy dalam hidup

 dan salah satu yang paling mudah yang bisa kita lakukan saat ini mungkin dengan membaca buku.

Berikut ada quotes yang bagus yang saya ambil dari page fb-nya bang tere liye

“Bacalah 10 buku, maka kita akan tiba-tiba merasa sok tahu dan merasa paling pintar. Tapi tahan dulu sok tahunya....
Bacalah 50 buku, maka sok tahu-nya akan mulai berkurang, meski tetap merasa lebih pintar. Tapi juga tetap tahan dulu....
Bacalah 100 buku, maka sok tahu-nya semakin berkurang, pun merasa pintarnya. Tapi tetap tahan dulu....
Bacalah 500 buku, maka kita akan menghela nafas panjang, ternyata semakin banyak saja yang tidak kita tahu, semakin merasa belum ada apa-apanya....
Bacalah 1000 buku, dstnya”

Yaa, ga harus buku sih , baca apa sajalah yang bisa dibaca

*firman fakhri
Bandung, 31 Oktober

Senin, 28 Oktober 2013

Apa ada yang lebih berharga


Apa ada yang lebih berharga?
Daripada teman-teman seperjuangan
yang selalu senang saat kita senang
yang selalu sedih saat kita bersedih
yang selalu mencoba mengerti walau kadang tak mungkin mengerti sepenuhnya
Yang selau mengingatkan ketika kita berbuat salah
Yang dengan candanya , selalu membuat ceria, walau terkadang mengesalkan
Yang selalu peduli walau kadang-kadang kita tak peduli
Yang selalu menjadi pendengar yang baik
Yang selalu menjadi tempat sampah rengekan-rengekan  kita yang terkadang jelas pun tidak
Yang selalu mencari saat kita tiba-tiba hilang
Yang selalu memaklumi kebodohan-kebodohan kita yang berulang
Yang selalu membuat suasana menjadi ramai
Yang selalu melihat dan menerima apa adanya
Tidak peduli kita kaya, miskin, pintar , ataupun bodoh
Apa ada yang lebih berharga?
Ada
Tetu saja ada
Hal itu adalah Allah dan Rasulnya, Keluarga kita, dan nilai-nilai agama dan moral yang tidak mungkin dilanggar
Namun , selain itu?
Apa ada yang lebih berharga?

firman fakhri
Bandung, 28 Oktober 2013
*sehabis hujan, pukul 5.12 PM

Kekayaan


Pertanyaannya: Berapa banyak yg kita butuhkan? Dan berapa banyak yg sudah kita miliki?

Boleh sy tahu berapa penghasilan Anda sekarang? 1-2 juta/bulan (jika Anda buruh), atau 3-5 juta/bulan (jika Anda bekerja di salah satu perusahaan besar atau PNS dgn sistem remunerasi). 6-10 juta/bulan (jika Anda sudah memiliki 3-4 tahun pengalaman kerja). 10-15 juta/bulan (jika Anda sudah di level manajer junior atau pangkat sekian-sekian); dan seterusnya hingga 1 s/d 5 milliar per tahun jika Anda sudah berada di posisi partner perusahaan akuntan publik besar, firma konsultansi, direktur sebuah perusahaan dengan ribuan karyawan, atau profesi dokter, lawyer ngetop.

Apa sebenarnya yang kita cari dalam perjalanan tanpa ujung ini? Perjalanan 'pendapatan' seperti itukah yg sedang kita jalani? Karena jika iya, itu kabar buruk buat kita, karena hidup kita sesungguhnya berlari di rute paling lambat utk menjadi orang super-kaya di dunia. sangat2 lambat. rute kita itu bagai siput dibanding jalan tol.

Pemain sepak bola di Inggris, rata2 di gaji 500 juta/minggu. Pemain top mereka seperti Cristiano Ronaldo (sekarang pindah ke spanyol), digaji lebih dari 2 milliar/minggu. Per minggu, bukan per bulan atau per tahun. Bahkan meski kita jadi direktur perusahaan Astra Internasional, butuh 52 tahun hanya untuk menyamai gaji Ronaldo selama 1 musim (9 bulan). Itupun belum termasuk bonus2 yang dia terima. Tom Hanks dibayar 20-30 juta dollar (alias 180 -270 milliar) setiap kali tampil di film. Tiger Wood butuh satu kali kemenangan untuk mengantongi 2 juta USD. Penulis JK Rowling hanya butuh 5 tahun karir kepenulisan sejak Harry Potter meledak untuk berhasil mengumpulkan 300-500 juta poundsterling. Warren Buffet atau milliarder macam Bill Gate, setiap detik uangnya bertambah 5.000 dollar USD. Setiap detik, bukan setiap bulan atau setiap tahun.

Jadi jika di perjalanan tanpa ujung ini yg ingin kita cari adalah kekayaan, maka yg kita kerjakan sekarang: benar2 ada di jalur paling lambaaaat. Celakanya, kita justru menghabiskan waktu dgn lbh banyak chatting, nge-blog, dll pas kerja di kantor. Kita lebih banyak malas2an, ngomel, dsbgnya. Buka excell, atau ambil kalkulator, menurut definisi internasional, kita disebut kaya jika sudah memiliki aset keuangan/non keuangan produktif sebesar 1 juta dollar. Hitung dgn pendapatan kita sekarang, hingga usia kita 70 tahun, apakah angka itu akan tercapai saat kita tua? Ingat, itu asset produktif! bukan dalam bentuk rumah atau mobil.
 Akan sungguh menyedihkan, amat mengharukan, jika saat ini kita tahu persis angka 1 juta dollar itu hanyalah mimpi... dan kita juga tdk punya ide sama sekali utk mencari jalan mencapainya (kecuali berharap dpt suami kaya, atau keluarga istri/mertua kaya raya).... kita justeru tetap membuat sumpek, saling menyikut, dan melupakan hal2 yg lebih hakiki dalam hidup.

Saya terkadang sedih dan kasihan, setiap kali ngobrol dgn sopir2 angkutan umum, cleaning service, satpam, guru2... berkeliling di banyak kota, bertemu dgn banyak orang, mendengarkan mereka bicara, mereka justeru nyinyir sekali dgn betapa kecilnya gaji mereka... berkeluh-kesah... duhai, apakah kecilnya pipa rejeki yg kita miliki harus merusak keihklasan, rasa bersyukur atas pekerjaan yg ada? Sudah tidak kaya, kehilangan pahala pula (bahkan mungkin mengundang bala). Duhai, maukah kita menjadi orang yg se-merugi itu?
 Baiklah, mereka orang2 yg mungkin tdk berpendidikan, tdk tahu... tapi kita? yg dibesarkan dengan akses utk tahu, utk lbh bijak setiap hari, apakah tetap akan se-nyinyir mereka? Sayang, kan sudah capek2 kerja, tp sia-sia secara dunia dan akherat.... Jika teman kerja kita digaji lbh besar, atau siapalah digaji lbh besar, kenapa tdk nyengir saja, tersenyum, lantas bersyukur.

 Karena di titik lain yg lebih menyedihkan: ada orang2 melakukan kejahatan demi uang... Ada yg menyuap, ada yg minta suap... 6 milliar? Angka itu kecil sekali, bahkan tdk cukup utk membeli satu apartemen kelas menengah di Singapore. Menyuap 63 milliar? Angka itu bahkan tdk cukup utk membeli rumah di Hollywood. Korupsi 1,3 T... nah, kalau yg ini baru terasa besarnya. Tapi apakah sebesar itu? Tidak, kawan. Coba bandingkan dgn penghasilan Warren Buffet dan orang2 terkaya di dunia lainnya. Uang 1,3T itu seperti uang seribu rupiah dibandingkan uang satu juta milik mereka.

 Itulah kenapa dunia ini diciptakan dgn "ukuran2". Relativitas... Menurut sy, selain 'warna', 'waktu', 'ruang', ciptaan Tuhan yg indah lainnya adalah: relativitas. Kecil di sini, belum tentu kecil pula di sana. Besar di sana, belum tentu besar di sini... Dan, duhai... yg paling elok dari mekanisme relativitas itu adalah: dia dikunci oleh perasaan (bukan oleh ukuran metric, yg dipahami oleh rasionalitas). Ketika perasaan menjadi sumber perbandingan, maka apakah "perasaan-cukup" memiliki korelasi dengan angka2? tentu tidak.
"Berhentilah mencari... maka dengan sendirinya, kita telah tiba di ujung perjalanan. Selamat datang di rumah..."

Mau sejauh mana kita melewati jalan tanpa ujung itu? Sidharta Gautama meninggalkan tahtanya utk memahami hal ini. Orang2 besar di dunia juga melakukan hal yg sama (terlepas dr apa agama mereka). Warren Buffet juga dalam beberapa kasus, mungkin sudah sejak belasan tahun silam berhenti mencari (bacalah biografinya)... Percayalah, ketika kita lega.. ihklas... tulus... merasa berkecukupan, bukan berarti materi itu jd berhenti mendekat... Dalam banyak kasus: sebaliknya! Sungguh kabar baik, apalagi jika kita Muslim dan meyakini kitab suci, sungguh itu kabar baik, bukankah, di sana tertulis indah; bersyukurlah... maka akan Allah tambahkan nikmat itu...

Maka merasa cukuplah, dan kita akan dicukupkan oleh semesta alam... bukan karena otomatis sim-salabim kehidupan kita tiba2 jd cukup.. tp lebih karena perasaan cukup itu membuat beban kehidupan menjadi terasa ringan... Menurut rumus yg saya pahami, maka E (Enjoy/kebahagiaan hidup) itu sama dengan M (merasa) dikali C (cukup) kuadrat, persis rumus Einstein yg terkenal itu. E = m c kuadrat.
Berhentilah mencari.... Maka boleh jadi urusan ini yg justeru mencari kita.

*Lagi-lagi Repooost dari tulisan Bang Tere Liye
© Free Like a Swallow 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis