*Foto2 keren
Mendaki sebuah gunung bukan sebuah kebanggaan, Kawan
Karena kalau kita anggap pendakian gunung itu kebanggaan
Maka jangan lupa, penduduk setempat bahkan setiap hari
Setiap hari mencari kayu bakar, rotan, dan sebagainya di sana
Bahkan anak2 mereka pergi memancing ke atas danau di gunung
Berangkat pagi, pulang sore
Mengunjungi sebuah kota, New York, London, dsbgnya juga bukan prestasi
Karena kalau melanglang buana itu kita anggap prestasi
Maka jangan lupa, pengemis, gelandangan di sana setiap hari
Setiap hari mengemis dan menggelandang di jalanannya
Tidur di sudut2 kota, tempat kita baru saja ber-pose
Lantas kita bagikan di jejaring sosial
Kita tidak bicara berapa banyak gunung yang kita daki
Berapa lembar foto keren yang kita peroleh
Tapi berapa banyak pemahaman yang menetap di hati kita
Lantas menjadi sumber inspirasi kebaikan bagi sekitar
Menyayangi alam, memahami kebesaran Tuhan
Berhenti bertingkah kekanakan
Itulah hakikat pendakian tersebut
Kita tidak bicara berapa banyak kota yang kita kunjungi
Berapa lembar foto hebat yang kita dapatkan
Tapi berapa banyak pelajaran yang tinggal di kepala kita
Lantas menjadi sumber kebermanfaatan bagi orang lain
Memahami keanekaragaman dan perbedaan
Berhenti sombong dan berlebihan
Itulah hakikat sebuah perjalanan
Lakukanlah perjalanan mengelilingi dunia, Kawan
Kunjungi tempat2 indah dan spesial
Bukan untuk dicatat, difoto lantas dipamerkan
Tapi simpel, perjalanan adalah perjalanan
Dia akan mendidik kita dengan lembut
Tentang banyak hal
*Tere Liye
Repost dari page fb bang tere liye, https://www.facebook.com/darwistereliye
Kamis, 14 November 2013
Sabtu, 09 November 2013
Hal kecil(yang penting) yang kadang kita lupakan
Pelajaran memang bisa datang dari
mana saja, tidak harus selau dari buku-buku, motivator, internet, bahkan dari
teman-teman di sekitar kita pun pelajaran itu bisa kita dapat. Asal kita mau
sedikit mengamati.Nah, pelajaran yang satu ini saya dapat dari teman senasib
seperjuangan pada masa kuliah saya (sekarang pun juga masih kuliah sih) , jadi
walaupun teman saya ini sama slengeannya kaya saya, sama ga benernya , haha,
tapi ada satu sikap dia yang membuat saya acungi jempol, apa itu? Yaitu dia
kalau makan selalu menghabiskannya sampai butir nasi yang terakhir.
Saya pun juga sebenarnya kalau
makan jarang menyisakan makanan, hanya
beberapa kali saja,insya Allah dihabiskan, namun habis versi –nya saya dan kebanyakan orang biasanya
sih pasti masih menyisakan beberapa butir nasi. Ya, jadi tidak habis sampai
butir nasi yang terakhir. Sepintas mungkin ini merupakan hal kecil , hal biasa,
tapi apa iya begitu?
Coba kita lihat perhitungan di
bawah ini..,
Ternyata eh ternyata ya masih
banyak kasus kelaparan di di dunia ini, di saat kita besok berpikir mau makan
apa, di belahan bumi yang lain mungkin ada yang bingung besok bisa makan atau
tidak. Lalu apakah dengan kita selalu menghabiskan sampai sebutir nasi bisa
mengurangi kasus-kasus kelaparan yang terjadi? Mungkin secara langsung tidak,
tapi setidaknya kita menghargai diri kita dan makanan itu sendiri, dan bahkan
hal itu bisa melatih kita utuk berpikir dua kali sebelum makan.Apakah mau makan
secukupnya apa mau makan berlebihan? Yah itu pilihan, asal syaratnya satu,
dihabiskan.
Sejak kecil pun ayah dan ibu kita
mungkin sering cerewet mengingatkan kita soal menghabiskan makanan ini, “jangan
buang-buang makanan, ntar nasinya nangis “,atau “hargai kerja keras petani,
bikin beras ga gampang”. Yah nasihat orangtua pasti maksudnya selalu baik.
Oh ya, Kalian tau saat2 yang
paling nikmat menyantap makanan? Ya, pada saat kita benar-benar kelaparan,
bahkan nasi dan kerupuk pun sangat nikmat rasanya. Kalau bagi kita yang muslim,
mungkin ketika bulan ramadhan ketika saat berbuka puasa setelah seharian benar-benar
berpuasa, mungkin ditambah dengan bekerja dan berolahraga. Waktu berbuka
rasanya pasti nikmat sekali, sebenarnya, mungkin itu salah satu intinya puasa,
mengajarkan sedikit penderitaan untuk pemahaman yang mahal harganya
Saya sendiri pun pernah mengalami
saat2 kelaparan , dulu waktu masa kaderisasi masuk organisasi pecinta alam di
kampus,waktu kegiatan survival di hutan, di mana hanya boleh makan dan minum
hanya dari bahan-bahan yang tersedia di hutan, rasanya perut keroncongan sekali
saat itu, saya benar-benar merasakan lapar yang sebenar-benarnya lapar. Lalu baru
saat acara penutupan lah saya benar-benar merasakan nikmatnya apa itu makanan.
Seharusnya sih itu menjadi salah satu pelajaran yang berharga yang saya alami
soal makanan, karena merasakan langsung
apa itu lapar. Namun, entah kenapa pelajaran berharga tersebut menguap begitu
saja seiring hari-hari ,buktinya? Kadang-kadang saya masih menyisakan makanan.
yah mungkin salah satu penyebabnya hal ini belum terpatri ke alam bawah sadar,
berarti belum dibiasakan.
Oh ya, apa kalian sering sebal,
jengah kalau melihat berita-berita mengenai
pejabat-pejabat koruptor ? Kalau iya, sama, saya juga. Contohnya mungkin yang
membuat kita sebal, ketika pejabat-pejabat tersebut menumpuk harta kekayaannya
dengan korupsi dan apalah itu , dan kita bertanya-tanya, “memangnya gaji dia
kurang apa?” Lalu kita berkomentar,”di wilayah kekuasaan pejabat tersebut,banyak
sebenarnya yang perlu di perbaiki di sektor pendidikan, infrastruktur ,dsb,
lebih baik dia gunakan harta kekayaannya itu untuk membantu sesama, tidak etis
rasanya seorang pejabat bermewah-mewahan di saat ada rakyatnya yang masih
kesusahan”, mungkin kira-kira begitu inti komentar-komentarnya dari yang saya baca
di media massa dan saya lihat di televisi.
Saya sering berpikir bagaimana
kalau seandainya kita yang diberitakan di media massa, di televisi. Isi
beritanya mengenai kita yang selalu makan mewah, selalu makan berlebihan , dan
sering menyisakan makanan. Lalu yang menontonnya adalah saudara-saudara kita
yang kelaparan, lalu berkomentar, “mubazir banget nasinya”,”mending buat kita”,
“ga etis rasanya makan berlebihan di saat masih ada yang kelaperan”,dsb,
kesimpulannya,berarti mungkin aja sebenarnya, sejatinya kelakuan kita ga berbeda jauh sama
koruptor-koruptor itu, pejabat penumpuk harta itu, hanya mungkin di ruang
lingkup yang lebih kecil dan ga di beritain aja. Jadi ingat , selalu ngaca dulu,
biar ganteng
Ya, mungkin menyisakan makanan
bagi kita yang berkecukupan ini merupakan hal-hal kecil (yang penting) yang
kadang kita lupakan, tapi mungkin tidak bagi yang sedang kelaparan. Jadi ya,
intinya, diinget-inget dan dibiasain aja, untuk selalu berusaha menghabiskan
makanan sampai butir nasi yang terakhir. Yang penting berusaha menghabiskan
dulu deh…
Cuma mau menuangkan isi pikiran,cuma mau ngingetin sih, tapi
jangan lupa ngingetin saya juga yaa, trima kasih
Firman Fakhri
10 November 2013
Rabu, 06 November 2013
Nasihat Orangtua : “sing legowo to lee”
“Hidup kadang tidak selalu seperti
yang kita inginkan”
Kalimat di atas tentu sudah
sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari , namun apa maksudnya yaa?
Saat mendengar kalimat tersebut
ada beberapa hal yang saya pikirkan…
Pertama, hidup kadang tidak selalu
seperti yang kita inginkan karena memang
kita kurang berusaha untuk mendapatkannya, ekspektasi , harapan-harapan kita
terlalu tinggi , berbanding terbalik dengan tindakan kita. Contohnya, dulu
ketika sma saya ingin sekali masuk fakultas FMIPA di universitas favorit, namun
gagal, dan memang dulu saya terlalu santai, kurang berusaha, merasa sudah bisa
mungkin, akibatnya yaa gagal.
Kedua, hidup kadang tidak selalu seperti
yang kita inginkan karena memang masih ada sesuatu yang salah. Maksudnya
begini, setiap tujuan pasti dimulai dari langkah pertama, sampai dengan langkah
yang terakhir hingga tepat di tujuan. Jadi setiap tujuan pasti terpecah menjadi
beberapa step, beberapa langkah yang harus dilalui. Kalau kita tidak tiba di
tujuan , berarti ada langkah-langkah kita yang kurang benar, masih ada sesuatu
yang salah. Intinya sih, kita kurang ilmu nya untuk mencapai tujuan kita itu, padahal
segala sesuatunya pasti ada ilmunya.
Ketiga, hidup kadang tidak selalu
seperti yang kita inginkan karena kita hidup di dunia tidak sendiri. Jadi
begini, setiap orang punya anugrah kehendak bebas dalam dirinya masing-masing,
yang artinya tiap orang bebas memilih apa yang akan dilakukannya, dan kita
tidak bisa mengendalikannya, satu-satunya yang dapat kita kendalikan adalah
diri kita masing-masing.Lalu apa hubungannya ? ya itu, kebanyakan tujuan pasti
tidak mungkin kita capai sendiri, pasti melibatkan, membutuhkan bantuan orang
lain.Karena kita hidup tidak sendiri.
Keempat, hidup kadang tidak selalu
seperti yang kita inginkan mungkin karena kita belum siap menerima apa yang kita inginkan. Jadi singkatnya kalau kata
bang tere liye begini “Kalau kita tidak
bersyukur atas hal2 kecil, maka bagaimana kita bisa menjamin akan bersyukur hal2
yang besar? Boleh jadi itulah kenapa hal2 besar itu tidak mendekat”.
Kelima, hidup kadang tidak selalu seperti yang kita inginkan
karena memang itu sudah ketentuan Tuhan. Tuhan tau yang terbaik untuk kita.Kenapa?
Jawaban sementara saya saat ini dengan pemahaman saya yang terbatas mungkin
begini,kadang kita justru tau pemahaman hidup, kesadaran akan hidup justru dari
hal-hal yang tidak kita inginkan, dan pemahaman hidup itulah hal yang sangat
mahal harganya, pemahaman hidup itulah yang membuat kita menjadi manusia lebih
bernilai, yang lebih bermanfaat,mungkin begitu siih.bagaimana menurut kalian?
Ya, jadi itu beberapa hal yang
saya pikirkan. Lalu bagaimana sikap kita kalau “hidup kadang tidak selalu seperti
yang kita inginkan”??
Tidak usah jauh2 mencari jwabannya,
saran saya sih ingat-ingat saja pesan orang tua kita, karena menurut saya
orangtua pasti sudah berpengalaman akan
hal-hal begini.
Kalau nasihat orang tua saya sih seperti
ini biasanya dengan logat bahasa jawa,hhe, “sing sabaar lee”, “yo syukuri aja
to lee”, yoo wiis “sing legowo to lee”
Ya mungkin hanya itu intinya,
sabar aja, syukuri aja, dan legowo (terima aja dengan ikhlas)
Dan kalau bisa seperti itu,
rasanya sih tidak ada lgi istilah “hidup kadang tidak selalu seperti yang kita
inginkan”
Tapi eksekusi memang tidak
semudah ucapan ,semaangaaatt!!
*firman fakhri
6 November 2013Rabu, 30 Oktober 2013
Bacalah
“Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”
Kira-kira seperti itulah
penggalan ayat Al-qur’an yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
ketika sedang menyendiri di gua hira. Lalu , pertanyaannya sekarang adalah,
kenapa? Kenapa ayat ini yang pertama kali diturunkan. Kenapa perintah “bacalah”
ini yang pertama kali disampaikan kepada Nabi Muhammad?
Kira-kira ini beberapa pemikiran
dari beberapa sumber yang sudah saya baca, karena menurut saya akan lebih baik bila
disampaikan daripada tidak, maka akan coba saya sampaikan
Oke, jadi mengapa kita harus
membaca? Jadi landasan teori yang pertama adalah hidup ini pilihan, ya pilihan,
itu adalah salah satu anugrah Tuhan , kita semua dianugrahi kemampuan untuk
memilih, kita punya kehendak bebas untuk melakukan apa yang kita suka, jadi,
Tuhan tidak memperlakukan kita seperti bidak catur.
Lalu apa sih hal yang selalu
berhubungan dengan kata “pilihan”? ya, itu adalah “keputusan”. Hidup kita ini selalu berdasarkan
keputusan-keputusan yang kita buat sendiri.contoh kecilnya misal kita tau besok
ada kuliah pagi jam setengah tujuh , namun pada malam hari ada permainan video
game yang sangat seru menunggu untuk dimainkan. Apa yang akan kita lakukan? Apakah
kita akan memilih begadang atau tidur? Tentu
saja itu terserah kita, itu adalah contoh kecil dari sebuah keputusan.
Lalu apa yang mendasari
keputusan-keputusan yang kita buat? Tentu saja hal tersebut adalah ilmu dan
pengetahuan. Keputusan-keputusan yang kita buat pasti tidak semua berbuah
manis, beberapa mungkin ada yang berbuah kegagalan. Jadi, ini adalah salah satu
maksud agar kita terus membaca, terus belajar,Agar keputusan-keputusan yang
kita buat dalam hidup lebih akurat,lebih tepat dan lebih objektif.
Lalu bagaimana agar kita
objektif, agar sudut pandang kita lebih luas? Yang paling mudah mungkin dengan
membaca buku dari berbaga segi keilmuan, namun “membaca” menurut saya,bisa juga
dengan mendengarkan pengalaman dan nasihat orang, dan yang paling asik mungkin
jalan-jalan,pergi ke berbagai tempat,
berbaur, mengobrol dengan masyarakat setempat.Saya rasa pemimpin yang baik pun
adalah yang biasa merakyat, berbaur, karena bagaimana mungkin dia bisa mengambil
keputusan yang bijak jikalau haya tau
dari media, jikalau dia tiak pernah
melihat kondisi rakyatnya secara langsung.Ya, kira-kira itu beberapa caranya.
Oh ya, satu lagi jikalau kita mau objektif, tentu saja harus menyesuaikan
dengan hukum-hukum alam yang berlaku.
Ya, hukum alam,jadi begini,kita
memang dianugrahi Tuhan berupa kehendak bebas untuk melakukan apa yang kita
suka, namun yang harus diingat adalah kita tidak bisa memilih resiko atas apa
yang telah kita perbuat. Kenapa begitu? Karena di dunia ini ada hukum-hukum
alam, hukum-hukum universal yang diciptakan Tuhan yang tidak bisa kita ubah.
Nah, mungkin itulah tugas kita sebagai manusia,terus “membaca” hukum-hukum alam
yang ada , menyesuaikan dengan keputusan-keputusan kita agar tidak
melanggarnya, biar apa? Tentu saja agar hidup kita lebih mudah dengan tidak
melanggar hukum-hukum alam tersebut.
Oh ya,tapi bagaimana kita tahu
bahwa hukum-hukum itu,aturan-aturan itu
benar apa tidak?akurat atau tidak, seorang senior dulu pernah memberi tahu saya
jangan langsung menelan bulat-bulat hukum-hukum, aturan-aturan,apalagi yang
dibuat oleh manusa, selalu pikir kenapa aturan itu dibuat, telaah dua kali,
sebelum mengambil keputusan. Kalau soal benar atau tidak, menurut saya yang
paling baik adalah kembali ke kepercayaan inti kita masing-masing. Kepercayaan
inti di sini adalah agama.Kalau yang muslim ,tentunya kepercayaan intinya
adalah kepada Allah melalui Al-qur’an dan hadits. Jadi, berapapun banyak buku, literatur
yang kita baca,kita harus puya “saringan” untuk menyaring informasi-informasi
tersebut yang apakah sesuai dengan kepercayaan inti kita.
Jadi itu, menurut saya beberapa
alasan mengapa kita harus “membaca”, dan lagipula "membaca" juga seakan memenuhi dahaga akan keingintahuan kita,dan yang paling penting "bagaimana" dengan membaca kita dapat menjadi lebih heppy dalam hidup
dan salah satu yang paling mudah yang bisa kita lakukan saat ini mungkin dengan membaca buku.
dan salah satu yang paling mudah yang bisa kita lakukan saat ini mungkin dengan membaca buku.
Berikut ada quotes yang bagus yang
saya ambil dari page fb-nya bang tere liye
“Bacalah 10 buku, maka kita akan
tiba-tiba merasa sok tahu dan merasa paling pintar. Tapi tahan dulu sok
tahunya....
Bacalah 50 buku, maka sok
tahu-nya akan mulai berkurang, meski tetap merasa lebih pintar. Tapi juga tetap
tahan dulu....
Bacalah 100 buku, maka sok
tahu-nya semakin berkurang, pun merasa pintarnya. Tapi tetap tahan dulu....
Bacalah 500 buku, maka kita akan
menghela nafas panjang, ternyata semakin banyak saja yang tidak kita tahu,
semakin merasa belum ada apa-apanya....
Bacalah 1000 buku, dstnya”
Yaa, ga harus buku sih , baca apa
sajalah yang bisa dibaca
*firman fakhri
Bandung, 31 Oktober
Senin, 28 Oktober 2013
Apa ada yang lebih berharga
Apa ada yang lebih berharga?
Daripada teman-teman seperjuangan
yang selalu senang saat kita senang
yang selalu sedih saat kita bersedih
yang selalu mencoba mengerti walau kadang tak mungkin mengerti
sepenuhnya
Yang selau mengingatkan ketika kita berbuat salah
Yang dengan candanya , selalu membuat ceria, walau terkadang
mengesalkan
Yang selalu peduli walau kadang-kadang kita tak peduli
Yang selalu menjadi pendengar yang baik
Yang selalu menjadi tempat sampah rengekan-rengekan kita yang terkadang jelas pun tidak
Yang selalu mencari saat kita tiba-tiba hilang
Yang selalu memaklumi kebodohan-kebodohan kita yang berulang
Yang selalu membuat suasana menjadi ramai
Yang selalu melihat dan menerima apa adanya
Tidak peduli kita kaya, miskin, pintar , ataupun bodoh
Apa ada yang lebih berharga?
Ada
Tetu saja ada
Hal itu adalah Allah dan Rasulnya, Keluarga kita, dan nilai-nilai agama
dan moral yang tidak mungkin dilanggar
Namun , selain itu?
Apa ada yang lebih berharga?
firman fakhri
Bandung, 28 Oktober 2013
Bandung, 28 Oktober 2013
*sehabis hujan, pukul 5.12 PM
Kekayaan
Pertanyaannya: Berapa banyak yg kita butuhkan? Dan berapa banyak yg sudah kita miliki?
Boleh sy tahu berapa penghasilan Anda sekarang? 1-2 juta/bulan (jika Anda buruh), atau 3-5 juta/bulan (jika Anda bekerja di salah satu perusahaan besar atau PNS dgn sistem remunerasi). 6-10 juta/bulan (jika Anda sudah memiliki 3-4 tahun pengalaman kerja). 10-15 juta/bulan (jika Anda sudah di level manajer junior atau pangkat sekian-sekian); dan seterusnya hingga 1 s/d 5 milliar per tahun jika Anda sudah berada di posisi partner perusahaan akuntan publik besar, firma konsultansi, direktur sebuah perusahaan dengan ribuan karyawan, atau profesi dokter, lawyer ngetop.
Apa sebenarnya yang kita cari dalam perjalanan tanpa ujung ini? Perjalanan 'pendapatan' seperti itukah yg sedang kita jalani? Karena jika iya, itu kabar buruk buat kita, karena hidup kita sesungguhnya berlari di rute paling lambat utk menjadi orang super-kaya di dunia. sangat2 lambat. rute kita itu bagai siput dibanding jalan tol.
Pemain sepak bola di Inggris, rata2 di gaji 500 juta/minggu. Pemain top mereka seperti Cristiano Ronaldo (sekarang pindah ke spanyol), digaji lebih dari 2 milliar/minggu. Per minggu, bukan per bulan atau per tahun. Bahkan meski kita jadi direktur perusahaan Astra Internasional, butuh 52 tahun hanya untuk menyamai gaji Ronaldo selama 1 musim (9 bulan). Itupun belum termasuk bonus2 yang dia terima. Tom Hanks dibayar 20-30 juta dollar (alias 180 -270 milliar) setiap kali tampil di film. Tiger Wood butuh satu kali kemenangan untuk mengantongi 2 juta USD. Penulis JK Rowling hanya butuh 5 tahun karir kepenulisan sejak Harry Potter meledak untuk berhasil mengumpulkan 300-500 juta poundsterling. Warren Buffet atau milliarder macam Bill Gate, setiap detik uangnya bertambah 5.000 dollar USD. Setiap detik, bukan setiap bulan atau setiap tahun.
Jadi jika di perjalanan tanpa ujung ini yg ingin kita cari adalah kekayaan, maka yg kita kerjakan sekarang: benar2 ada di jalur paling lambaaaat. Celakanya, kita justru menghabiskan waktu dgn lbh banyak chatting, nge-blog, dll pas kerja di kantor. Kita lebih banyak malas2an, ngomel, dsbgnya. Buka excell, atau ambil kalkulator, menurut definisi internasional, kita disebut kaya jika sudah memiliki aset keuangan/non keuangan produktif sebesar 1 juta dollar. Hitung dgn pendapatan kita sekarang, hingga usia kita 70 tahun, apakah angka itu akan tercapai saat kita tua? Ingat, itu asset produktif! bukan dalam bentuk rumah atau mobil.
Akan sungguh menyedihkan, amat mengharukan, jika saat ini kita tahu persis angka 1 juta dollar itu hanyalah mimpi... dan kita juga tdk punya ide sama sekali utk mencari jalan mencapainya (kecuali berharap dpt suami kaya, atau keluarga istri/mertua kaya raya).... kita justeru tetap membuat sumpek, saling menyikut, dan melupakan hal2 yg lebih hakiki dalam hidup.
Saya terkadang sedih dan kasihan, setiap kali ngobrol dgn sopir2 angkutan umum, cleaning service, satpam, guru2... berkeliling di banyak kota, bertemu dgn banyak orang, mendengarkan mereka bicara, mereka justeru nyinyir sekali dgn betapa kecilnya gaji mereka... berkeluh-kesah... duhai, apakah kecilnya pipa rejeki yg kita miliki harus merusak keihklasan, rasa bersyukur atas pekerjaan yg ada? Sudah tidak kaya, kehilangan pahala pula (bahkan mungkin mengundang bala). Duhai, maukah kita menjadi orang yg se-merugi itu?
Baiklah, mereka orang2 yg mungkin tdk berpendidikan, tdk tahu... tapi kita? yg dibesarkan dengan akses utk tahu, utk lbh bijak setiap hari, apakah tetap akan se-nyinyir mereka? Sayang, kan sudah capek2 kerja, tp sia-sia secara dunia dan akherat.... Jika teman kerja kita digaji lbh besar, atau siapalah digaji lbh besar, kenapa tdk nyengir saja, tersenyum, lantas bersyukur.
Karena di titik lain yg lebih menyedihkan: ada orang2 melakukan kejahatan demi uang... Ada yg menyuap, ada yg minta suap... 6 milliar? Angka itu kecil sekali, bahkan tdk cukup utk membeli satu apartemen kelas menengah di Singapore. Menyuap 63 milliar? Angka itu bahkan tdk cukup utk membeli rumah di Hollywood. Korupsi 1,3 T... nah, kalau yg ini baru terasa besarnya. Tapi apakah sebesar itu? Tidak, kawan. Coba bandingkan dgn penghasilan Warren Buffet dan orang2 terkaya di dunia lainnya. Uang 1,3T itu seperti uang seribu rupiah dibandingkan uang satu juta milik mereka.
Itulah kenapa dunia ini diciptakan dgn "ukuran2". Relativitas... Menurut sy, selain 'warna', 'waktu', 'ruang', ciptaan Tuhan yg indah lainnya adalah: relativitas. Kecil di sini, belum tentu kecil pula di sana. Besar di sana, belum tentu besar di sini... Dan, duhai... yg paling elok dari mekanisme relativitas itu adalah: dia dikunci oleh perasaan (bukan oleh ukuran metric, yg dipahami oleh rasionalitas). Ketika perasaan menjadi sumber perbandingan, maka apakah "perasaan-cukup" memiliki korelasi dengan angka2? tentu tidak.
"Berhentilah mencari... maka dengan sendirinya, kita telah tiba di ujung perjalanan. Selamat datang di rumah..."
Mau sejauh mana kita melewati jalan tanpa ujung itu? Sidharta Gautama meninggalkan tahtanya utk memahami hal ini. Orang2 besar di dunia juga melakukan hal yg sama (terlepas dr apa agama mereka). Warren Buffet juga dalam beberapa kasus, mungkin sudah sejak belasan tahun silam berhenti mencari (bacalah biografinya)... Percayalah, ketika kita lega.. ihklas... tulus... merasa berkecukupan, bukan berarti materi itu jd berhenti mendekat... Dalam banyak kasus: sebaliknya! Sungguh kabar baik, apalagi jika kita Muslim dan meyakini kitab suci, sungguh itu kabar baik, bukankah, di sana tertulis indah; bersyukurlah... maka akan Allah tambahkan nikmat itu...
Maka merasa cukuplah, dan kita akan dicukupkan oleh semesta alam... bukan karena otomatis sim-salabim kehidupan kita tiba2 jd cukup.. tp lebih karena perasaan cukup itu membuat beban kehidupan menjadi terasa ringan... Menurut rumus yg saya pahami, maka E (Enjoy/kebahagiaan hidup) itu sama dengan M (merasa) dikali C (cukup) kuadrat, persis rumus Einstein yg terkenal itu. E = m c kuadrat.
Berhentilah mencari.... Maka boleh jadi urusan ini yg justeru mencari kita.
*Lagi-lagi Repooost dari tulisan Bang Tere Liye
Langganan:
Postingan (Atom)